'Bukan Karena Konsumsi,' Pakar Bongkar Alasan Pertumbuhan Ekonomi Meroket
![]() |
| Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami. (Foto: Youtube Bambang Widjojanto) |
JAKARTA - Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menyentuh angka 5,61 persen dinilai membutuhkan pencermatan lebih mendalam. Angka yang terlihat positif di atas kertas tersebut ternyata belum sepenuhnya digerakkan oleh motor utama perekonomian nasional, melainkan lebih banyak didorong oleh belanja pemerintah.
Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami menilai bahwa pencapaian ini memang merupakan rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Meski demikian, masyarakat dan pemangku kebijakan perlu membedah komponen yang menjadi pendorong utama lonjakan angka tersebut.
"Secara statistik memang indah kita tumbuh 5,61 persen. Tapi kita mungkin bisa melihat kira-kira apa sih memang yang men-drive pertumbuhan menjadi 5,61 persen. Ini menjadi pertumbuhan yang paling besar dalam 13 tahun terakhir," sebutnya di kanal Youtube Bambang Widjojanto, Kamis (20/8/2026).
Ditopang Anggaran Pemerintah
Nadia menjelaskan, fondasi ekonomi Indonesia idealnya digerakkan oleh empat pilar utama, yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, serta ekspor dan impor. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa pengeluaran negara memegang kendali dominan.
"Jika kita melihat ternyata memang pertumbuhan terbesar atau lihat kontribusinya terlihat dari government spending. Itu tinggi sekali di kuartal 1 mencapai 21,8 persen," urainya.
Motor Utama Lesu
Tingginya kontribusi pengeluaran pemerintah berbanding terbalik dengan kondisi konsumsi masyarakat di lapangan. Menurutnya, konsumsi seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian dengan porsi sumbangan mencapai sekitar 54,4 persen.
"Ini seharusnya dua indikator itu yang didorong, harus yang tumbuh pertumbuhannya responsif dan lebih besar. Tapi kenyataannya stagnan untuk dua indikator. Dan ini government spending, lagi-lagi berbagai program belanja-belanja," paparnya.
Soroti Komponen Investasi
Selain konsumsi yang jalan di tempat, masuknya data investasi ke dalam hitungan pertumbuhan juga memantik pertanyaan. Nadia menyarankan agar komponen investasi yang dirilis oleh BPS ditelusuri lebih detail. Ia menduga ada kemungkinan masuknya pos impor alat utama sistem persenjataan (alutsista) sebagai penyumbang angka investasi tersebut.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Kampus, Balai Kota, Parlemen |











