Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
7 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Home  /  Berita  /  Kampus

'Bukan Karena Konsumsi,' Pakar Bongkar Alasan Pertumbuhan Ekonomi Meroket

Bukan Karena Konsumsi, Pakar Bongkar Alasan Pertumbuhan Ekonomi Meroket
Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami. (Foto: Youtube Bambang Widjojanto)
Kamis, 20 Agustus 2026 11:51 WIB

JAKARTA - Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menyentuh angka 5,61 persen dinilai membutuhkan pencermatan lebih mendalam. Angka yang terlihat positif di atas kertas tersebut ternyata belum sepenuhnya digerakkan oleh motor utama perekonomian nasional, melainkan lebih banyak didorong oleh belanja pemerintah.

Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami menilai bahwa pencapaian ini memang merupakan rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Meski demikian, masyarakat dan pemangku kebijakan perlu membedah komponen yang menjadi pendorong utama lonjakan angka tersebut.

"Secara statistik memang indah kita tumbuh 5,61 persen. Tapi kita mungkin bisa melihat kira-kira apa sih memang yang men-drive pertumbuhan menjadi 5,61 persen. Ini menjadi pertumbuhan yang paling besar dalam 13 tahun terakhir," sebutnya di kanal Youtube Bambang Widjojanto, Kamis (20/8/2026).

Ditopang Anggaran Pemerintah

Nadia menjelaskan, fondasi ekonomi Indonesia idealnya digerakkan oleh empat pilar utama, yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, serta ekspor dan impor. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa pengeluaran negara memegang kendali dominan.

"Jika kita melihat ternyata memang pertumbuhan terbesar atau lihat kontribusinya terlihat dari government spending. Itu tinggi sekali di kuartal 1 mencapai 21,8 persen," urainya.

Motor Utama Lesu

Tingginya kontribusi pengeluaran pemerintah berbanding terbalik dengan kondisi konsumsi masyarakat di lapangan. Menurutnya, konsumsi seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian dengan porsi sumbangan mencapai sekitar 54,4 persen.

"Ini seharusnya dua indikator itu yang didorong, harus yang tumbuh pertumbuhannya responsif dan lebih besar. Tapi kenyataannya stagnan untuk dua indikator. Dan ini government spending, lagi-lagi berbagai program belanja-belanja," paparnya.

Soroti Komponen Investasi

Selain konsumsi yang jalan di tempat, masuknya data investasi ke dalam hitungan pertumbuhan juga memantik pertanyaan. Nadia menyarankan agar komponen investasi yang dirilis oleh BPS ditelusuri lebih detail. Ia menduga ada kemungkinan masuknya pos impor alat utama sistem persenjataan (alutsista) sebagai penyumbang angka investasi tersebut.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Kampus, Balai Kota, Parlemen
wwwwww