Proyek Cetak Sawah Merauke Serap Ribuan Alat Berat dari Luar Negeri
![]() |
| Kapal pesiar J7 Explorer yang disebut milik pengusaha asal Kalimantan, menjadi sorotan setelah terlihat menggunakan logo Kementerian Pertahanan (Kemhan). (Foto: Dok. Kemhan) |
JAKARTA - Proyek pencetakan sawah skala besar di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan mendatangkan ribuan alat berat dan tenaga ahli asing. Untuk melancarkan rantai pasok dan operasional di wilayah yang minim infrastruktur darat tersebut, pengusaha Andi Samsudin Arsyad mengerahkan kapal pesiar ekspedisi J7 Explorer miliknya sebagai pusat logistik terapung.
Penggunaan kapal sepanjang 120 meter ini menarik perhatian publik karena disemati logo Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran rantai pasok dalam mendukung program percepatan ketahanan pangan nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Pemilik kapal, Andi Samsudin Arsyad menyatakan pengerahan sumber daya berskala besar ini merupakan bentuk tanggung jawab pengusaha dalam menyukseskan program prioritas negara. Pihaknya juga telah mendatangkan alat berat dalam jumlah masif.
"Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China. Selain itu, tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa juga dilibatkan untuk mendukung pekerjaan di lapangan," paparnya.
Solusi Akses Geografis
Karakter geografis Papua Selatan yang terisolasi membuat keberadaan kapal J7 Explorer sangat dibutuhkan. Kapal yang sanggup menampung 50 tamu beserta kru dalam jumlah besar ini berfungsi sebagai pusat koordinasi dan tempat tinggal sementara para tenaga ahli di tengah sulitnya akses lapangan.
Kapal berbobot 8.076 GT buatan Batam ini dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, termasuk helipad. Kapal ini kini difungsikan sepenuhnya sebagai infrastruktur penunjang utama yang menembus bentang alam timur Indonesia demi menyukseskan proyek pangan.
Penjelasan Otoritas Terkait
Terkait penggunaan logo kementerian di lambung kapal, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait memberikan klarifikasi. Logo tersebut menunjukkan bahwa mobilitas kapal berada di bawah wewenang pemerintah untuk kepentingan operasional pangan.
"Kepemilikan kapal tetap berada pada pihak swasta, sedangkan penggunaannya diarahkan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional," urainya. Operasional kapal ini juga mencakup wilayah Kalimantan dan Sumatera.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Kampus |











