Perluas Akses Pasar Global, Prabowo Bawa Indonesia Bidik Keanggotaan BRICS dan OECD
![]() |
| Presiden Prabowo Subianto. |
JAKARTA - Orientasi pasif dalam pragmatisme ekonomi makro kini ditinggalkan. Memasuki pertengahan 2026, pemerintah Indonesia secara agresif memperluas integrasi pasar global melalui manuver diplomasi tingkat tinggi yang dipimpin langsung oleh Prabowo Subianto.
Keterlibatan langsung ini terlihat dari rekam jejak lebih dari 50 kunjungan internasional dalam dua tahun terakhir. Fokus utama dari pergerakan ini adalah mengamankan ketahanan energi, mendorong investasi hilirisasi industri, serta memperkuat jaring pengaman ekonomi dari volatilitas global.
Integrasi BRICS dan Kesepakatan Perdagangan
Pemerintah menerapkan strategi pelindungan nilai (hedging) multipolar dalam berekspansi. Di satu sisi, Indonesia mematangkan langkah formal untuk bergabung dengan blok ekonomi BRICS, sementara di sisi lain tetap mengupayakan aksesi ke Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Langkah taktis juga tercatat dalam perundingan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang mengalami kemajuan substansial. Kesepakatan ini dirancang untuk membuka keran akses pasar Eropa yang lebih luas bagi komoditas strategis domestik.
"Seni diplomasi memperlakukan pihak lawan sebagai mitra untuk menghasilkan kesepakatan berkelanjutan dan saling menguntungkan," papar mantan penasihat kebijakan AS, Stuart E Eizenstat, dalam teori negosiasi internasionalnya yang memiliki titik temu dengan gaya diplomasi Jakarta saat ini.
Pengamanan Energi dan Hilirisasi
Di sektor ketahanan energi, pemerintah mengamankan pasokan komersial bernilai miliaran dolar di luar kawasan Timur Tengah, termasuk kesepakatan besar dengan Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan pertemuan strategis bersama Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk menjamin stabilitas pasokan di tengah eskalasi konflik global.
Untuk sektor industri hilir, kemitraan strategis terus didorong bersama negara-negara berteknologi maju seperti Prancis, Jepang, dan Korea Selatan. Ekspansi ekonomi multi-arah ini menjadi instrumen pemerintah untuk melindungi sistem keuangan dalam negeri dari disrupsi rantai pasok.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Balai Kota, Parlemen |










