Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
18 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
5
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Tujuh Tahun Tanpa Gaji, Enop Bertahan Mengajar Demi Anak Didiknya di Subang

Tujuh Tahun Tanpa Gaji, Enop Bertahan Mengajar Demi Anak Didiknya di Subang
Guru honorer asal Subang ikut demo di Monas. (liputan6.com/debby alifah maulida)
Kamis, 30 Oktober 2025 17:48 WIB

JAKARTA – Di antara lautan massa yang berdemo di kawasan Monas, Kamis (30/10/2025), seorang perempuan duduk terisak di tepi jalan. Namanya Enop, guru honorer dari TK Islam Raudlatul Athfal, Subang, Jawa Barat. Ia menangis bukan karena marah, melainkan karena lelah menahan beban hidup yang kian berat.

Selama tujuh tahun pertama menjadi guru, Enop tak pernah menerima gaji sepeser pun. Ia tetap datang ke sekolah, mengajar anak-anak kecil dengan senyum, sementara dapurnya bergantung pada suaminya yang bekerja serabutan.

“Kadang uang cuma Rp10 ribu, Rp20 ribu. Cukup buat beli beras saja. Tapi saya yakin Allah nggak akan tinggal diam,” ujarnya pelan.

Jarak rumah ke sekolah sekitar lima kilometer. Untuk sekadar membeli bensin motor pun sering kali tak ada uang. Namun semangatnya tak padam. “Kalau nggak berangkat, murid saya nunggu. Jadi tetap berangkat walau kadang jalan kaki,” tutur Enop dengan mata berkaca.

Dibayar Setahun Sekali, Tapi Tetap Mengajar

Setelah tujuh tahun, Enop akhirnya mulai mendapat gaji: Rp250 ribu per bulan, namun dibayarkan setahun sekali. “Uangnya langsung habis buat kebutuhan rumah. Nggak pernah ada sisa,” katanya sambil menunduk.

Tidak ada baju baru, tidak ada rias wajah, bahkan uang untuk ongkos ke sekolah pun sering kali harus meminjam. Tapi Enop menganggap semua itu bagian dari perjuangan. “Saya nggak suka dandan, karena memang nggak ada uangnya,” ucapnya dengan tawa getir.

Utang dan Harapan 

Kini, setelah mengantongi sertifikasi guru pada tahun 2014, Enop mendapat gaji tetap Rp2 juta per bulan. Namun, penghasilan itu masih jauh dari cukup. Ia memiliki tiga anak; satu sudah lulus kuliah namun belum bekerja, sementara yang bungsu masih menempuh pendidikan tinggi.

“Biaya kuliah anak bungsu Rp8 juta per semester, uang masuknya Rp17 juta. Dari mana saya bisa bayar kalau nggak pinjam?” katanya. 

Kini, Enop memiliki utang hampir Rp30 juta. Setiap malam, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. “Saya malu punya utang, tapi apa daya. Orang yang saya pinjami ngerti saya guru honor yang penghasilannya pas-pasan,” ujarnya menahan tangis. 

Mimpi yang Tak Pernah Padam

Meski terbebani utang dan hidup serba pas-pasan, Enop tetap memiliki harapan sederhana: menjadi ASN atau P3K agar nasibnya lebih baik. Namun jalannya tak mudah. “Saya sudah pernah ikut tes, nggak lolos. Bahkan sekarang nggak bisa daftar karena saya dari sekolah swasta,” katanya kecewa.

Jika harapan itu terwujud, Enop sudah tahu apa yang akan ia lakukan. “Pertama saya mau lunasi utang, kedua saya mau berangkat haji bareng ayah saya. Saya ingin bahagiakan ayah sebelum waktunya. Ibu sudah meninggal,” tuturnya, air matanya menetes lagi.

Guru yang Tak Pernah Menyerah

Bagi Enop, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Ia percaya bahwa mendidik adalah jalan pengabdian. Meski gajinya kecil, meski utangnya menumpuk, ia tetap datang ke sekolah setiap pagi dengan hati yang sama: ingin melihat anak-anaknya tertawa.

“Kalau bukan saya yang ngajar, siapa lagi. Mereka butuh belajar, butuh kasih sayang. Saya cuma ingin mereka jadi orang yang lebih baik dari saya,” ujarnya dengan suara lirih.

Kisah Enop menggambarkan wajah nyata perjuangan ribuan guru honorer di Indonesia—mereka yang berdiri di ruang kelas setiap hari dengan penuh dedikasi, meski sering kali tak punya jaminan hidup layak. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Kabar Bertuah, Balai Kota, Hukum
wwwwww