OPEC+ Kerek Kuota Produksi, Harga Minyak Dunia Merosot Tajam
![]() |
| Ilustrasi (net). |
JAKARTA - Batalnya rencana serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran membawa efek berantai pada instrumen perdagangan energi. Harga minyak mentah dunia merosot tajam pada penutupan perdagangan awal pekan, menyentuh level terendahnya terhitung sejak pertengahan Juli lalu.
Perdagangan Senin (3/8/2026) mencatat indeks minyak mentah Brent turun sebesar 6,35 persen dan bertengger di harga 83,77 Dolar AS per barel. Secara paralel, indeks West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 5,1 persen ke angka 80,34 Dolar AS per barel. Efek domino ini juga menyebabkan harga jual bensin dan solar di AS merosot sekitar 5 persen.
Bantahan Keras Pihak Iran
Tingginya ketergantungan pasar terhadap stabilitas kawasan Teluk sempat membuat pelaku pasar khawatir akan krisis energi. Ketegangan mereda saat Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan aksi militer dan menyebut negosiasi dengan Teheran masih berlanjut.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei memberikan klarifikasi resmi guna menolak klaim Washington.
"Tidak ada rencana pertemuan dalam waktu dekat," tandasnya.
Respons Produsen Minyak Global
Di tengah surutnya sentimen geopolitik, kebijakan produksi dari OPEC+ turut menekan pergerakan harga. Kesepakatan yang diraih pada hari Minggu menugaskan kenaikan kuota produksi sebanyak 188.000 barel per hari terhitung September nanti.
Walaupun kuota diperbesar, analis ekonomi memperingatkan bahwa distribusi minyak dari kawasan Teluk maupun Eropa Timur berisiko tertahan. Perang di Ukraina dan instabilitas Timur Tengah tetap menjadi faktor pembatas bagi kelancaran suplai energi internasional.
Tantangan Distribusi Jalur Laut
Kendala fisik di jalur pelayaran semakin menambah kompleksitas perdagangan komoditas ini. Ancaman serangan dari kelompok Houthi Yaman memaksa operator kapal mengubah logistik maritim.
Hasil pelacakan satelit menunjukkan sejumlah kapal tanker raksasa Arab Saudi memutar rute melewati wilayah Afrika demi menghindari kawasan rawan. Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terpaksa melambat akibat serangkaian ancaman keamanan, meski beberapa armada Saudi terlihat masih menggunakan rute Selat Bab el-Mandeb. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Kuliner |











