Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
12 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Kuliner

OPEC+ Kerek Kuota Produksi, Harga Minyak Dunia Merosot Tajam

OPEC+ Kerek Kuota Produksi, Harga Minyak Dunia Merosot Tajam
Ilustrasi (net).
Selasa, 04 Agustus 2026 10:57 WIB

JAKARTA - Batalnya rencana serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran membawa efek berantai pada instrumen perdagangan energi. Harga minyak mentah dunia merosot tajam pada penutupan perdagangan awal pekan, menyentuh level terendahnya terhitung sejak pertengahan Juli lalu.

Perdagangan Senin (3/8/2026) mencatat indeks minyak mentah Brent turun sebesar 6,35 persen dan bertengger di harga 83,77 Dolar AS per barel. Secara paralel, indeks West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 5,1 persen ke angka 80,34 Dolar AS per barel. Efek domino ini juga menyebabkan harga jual bensin dan solar di AS merosot sekitar 5 persen.

Bantahan Keras Pihak Iran

Tingginya ketergantungan pasar terhadap stabilitas kawasan Teluk sempat membuat pelaku pasar khawatir akan krisis energi. Ketegangan mereda saat Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan aksi militer dan menyebut negosiasi dengan Teheran masih berlanjut.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei memberikan klarifikasi resmi guna menolak klaim Washington.

"Tidak ada rencana pertemuan dalam waktu dekat," tandasnya.

Respons Produsen Minyak Global

Di tengah surutnya sentimen geopolitik, kebijakan produksi dari OPEC+ turut menekan pergerakan harga. Kesepakatan yang diraih pada hari Minggu menugaskan kenaikan kuota produksi sebanyak 188.000 barel per hari terhitung September nanti.

Walaupun kuota diperbesar, analis ekonomi memperingatkan bahwa distribusi minyak dari kawasan Teluk maupun Eropa Timur berisiko tertahan. Perang di Ukraina dan instabilitas Timur Tengah tetap menjadi faktor pembatas bagi kelancaran suplai energi internasional.

Tantangan Distribusi Jalur Laut

Kendala fisik di jalur pelayaran semakin menambah kompleksitas perdagangan komoditas ini. Ancaman serangan dari kelompok Houthi Yaman memaksa operator kapal mengubah logistik maritim.

Hasil pelacakan satelit menunjukkan sejumlah kapal tanker raksasa Arab Saudi memutar rute melewati wilayah Afrika demi menghindari kawasan rawan. Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terpaksa melambat akibat serangkaian ancaman keamanan, meski beberapa armada Saudi terlihat masih menggunakan rute Selat Bab el-Mandeb. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Kuliner
wwwwww