Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
10 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Home  /  Berita  /  Kampus

Sentil Kaum Intelektual, Prabowo Sebut Kelaparan Lebih Genting dari Masalah Lain

Sentil Kaum Intelektual, Prabowo Sebut Kelaparan Lebih Genting dari Masalah Lain
Presiden Prabowo Subianto (biro sekretariat presiden)
Kamis, 25 Juni 2026 06:55 WIB

GORONTALO - Polemik seputar pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disorot secara terbuka oleh Presiden, Prabowo Subianto. Pemberantasan kelaparan dan pemenuhan gizi dipastikan memegang posisi strategis dalam kebijakan negara.

Ketegasan ini diperlihatkan saat Prabowo memberikan pengarahan dalam agenda Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026). Perhatiannya sempat tertuju pada masyarakat yang membentangkan dukungan bertuliskan 'Lanjutkan MBG'.

"Sabar dulu, ya. Aku harus, aku harus selesaikan sambutan saya ini. Anak-anak itu, ya," tutur Presiden, Prabowo Subianto dari atas panggung.

Kritik Balik untuk Penolak MBG

Prabowo memanfaatkan momen tersebut untuk merespons kelompok masyarakat yang terus menyuarakan penolakan terhadap inisiatif MBG. Ia meminta mereka berhadapan langsung dengan penerima manfaat di tingkat akar rumput.

"Ada juga yang nggak setuju MBG. Harusnya mereka yang nggak setuju MBG datang ke sini, ya. Tanya itu petani-nelayan, MBG perlu atau tidak? Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?" tantangnya.

Bantahan tegas juga dialamatkan kepada pihak yang menganggap masalah perut lapar bukan urusan prioritas negara.

"Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan, ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira nggak ada yang lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu, kalau nggak segera diisi, ya dia mati," terangnya.

Angka Kelaparan PBB Jadi Rujukan

Program pemenuhan gizi ini diluncurkan bukan tanpa dasar. Lembaga dunia seperti PBB dan FAO memprediksi krisis ketersediaan pangan yang akan berdampak pada ratusan juta nyawa manusia.

"Dan PBB sudah meramalkan tahun ini kelaparan di dunia akan masif. Dua tahun yang lalu, sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia. Diperkirakan sekarang sudah meningkat jadi jadi 500 juta, ya? 700 juta. FAO memberi warning. Dan saudara-saudara, alhamdulillah, kita sekarang sudah mulai ekspor," paparnya menjabarkan fakta di lapangan.

Komitmen Bangkit Meski Ada Hambatan Politik

Tak hanya berbicara soal pangan, Prabowo dengan gamblang menyatakan bahwa langkah pemerintahannya memajukan Indonesia tidak selalu disambut baik oleh semua pihak.

"Kita akan bangkit menjadi negara yang hebat. Ada yang selalu tidak ingin kita bangkit. Ada. Kita sudah tahu mereka-mereka itu. Iya, kan," ujarnya membuka realitas konstelasi politik.

Berbicara di forum petani dan nelayan, ia meyakini bahwa komunikasi yang lugas dan bernada keras justru lebih efektif untuk didengar.

"Tapi kalau sama petani-nelayan, bicaranya harus keras. Betul, nggak? Kalau bicara kalem-kalem, kalian nggak akan dengar. Benar ya?" urainya.

Menambah kehangatan suasana, ia melakukan aksi teatrikal menirukan gaya bicara lembut dan merendah dengan muatan kritik soal distribusi kekayaan.

"Saudara-saudara sekalian, pembangunan harus dilaksanakan dengan baik. Para petani dan nelayan harus kerja keras, harus kerja keras dan tidak boleh minta untung besar-besar ya. Dan kita semua berharap suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada dinikmati segelintir orang akan pelan-pelan netes ke bawah," katanya menirukan gaya tersebut sambil mencibir yang disambut derai tawa ribuan pasang mata.

Di akhir candaannya, Prabowo menegaskan bahwa integritas hati jauh lebih penting daripada sekadar gaya bicara yang santun.

"Eh, sori, sori. Coba di, di-delete, delete. Eh, friend, ya, wartawan kita kompak, ya. Coba yang gitu-gitu. Nanti gua dihajar lagi, tuh. Emang gua pikirin. Sudah hari gini kita bicara apa adanya deh. Kalian lebih senang tahu hati saya, benar nggak? Daripada ngomong-ngomong sopan-sopanan gitu. Sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi," tutupnya dengan berani. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:detik.com
Kategori:Kampus
wwwwww