Pulang ke Tanah Air, Sembilan WNI Bawa Kisah Misi GSF
![]() |
Aktivis kemanusiaan, Hendro Prasetyo, mengungkapkan bahwa keputusan menyeberangi samudera murni sebagai wujud komitmen mendukung pembebasan tahanan. Namun, misi damai tersebut harus menghadapi rintangan berat ketika kapal mereka diintersep secara paksa.
Pencegatan diawali dengan pantauan udara menggunakan drone. Menyadari tingginya risiko keamanan, seluruh kru melenyapkan perangkat komunikasi ke laut sebelum akhirnya digiring masuk ke kontainer kapal penahan.
Di lokasi penahanan, tekanan psikologis diterapkan secara intens melalui intimidasi suara ledakan bom yang sengaja didengungkan di sekitar mereka.
"Ada bom-bom yang dilancarkan sama mereka menjelang siang gitu atau di malam harinya kayak gitu," ujar Hendro.
Ketidakpastian dan kekhawatiran turut menyelimuti jatah makanan yang dibagikan. Sebagai bentuk perlawanan damai dan penolakan terhadap tekanan yang ada, Hendro menginisiasi aksi mogok makan.
"Sehingga ya pasti dari saya sendiri melakukan hunger strike, tidak makan rotinya sama sekali," jelasnya.
Selama berada di bawah kendali militer tersebut, perlakuan keras turut dirasakan para relawan. Berbagai bentuk tekanan fisik dilakukan, mulai dari pemukulan hingga penggunaan alat kejut listrik.
"Disetrum adalah penyiksaan yang paling menyakitkan buat saya," sambungnya.
Meskipun harus menanggung beban fisik dan mental serta belum berhasil menembus blokade laut, tekad para aktivis justru semakin kuat. Pengalaman penyekapan tersebut mereka jadikan landasan untuk tidak berhenti menyuarakan perdamaian di kancah internasional. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Kuliner |











