Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
12 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Kuliner

Pulang ke Tanah Air, Sembilan WNI Bawa Kisah Misi GSF

Pulang ke Tanah Air, Sembilan WNI Bawa Kisah Misi GSF
Senin, 25 Mei 2026 07:48 WIB
JAKARTA – Sembilan Warga Negara Indonesia penggiat misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla mendarat dengan selamat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Minggu (24/5/2026). Kepulangan para relawan ini diwarnai isak tangis dukungan setelah mereka bertahan menghadapi tekanan tentara Israel dalam pelayaran menuju Gaza.

Aktivis kemanusiaan, Hendro Prasetyo, mengungkapkan bahwa keputusan menyeberangi samudera murni sebagai wujud komitmen mendukung pembebasan tahanan. Namun, misi damai tersebut harus menghadapi rintangan berat ketika kapal mereka diintersep secara paksa.

Pencegatan diawali dengan pantauan udara menggunakan drone. Menyadari tingginya risiko keamanan, seluruh kru melenyapkan perangkat komunikasi ke laut sebelum akhirnya digiring masuk ke kontainer kapal penahan.

Di lokasi penahanan, tekanan psikologis diterapkan secara intens melalui intimidasi suara ledakan bom yang sengaja didengungkan di sekitar mereka.

"Ada bom-bom yang dilancarkan sama mereka menjelang siang gitu atau di malam harinya kayak gitu," ujar Hendro.

Ketidakpastian dan kekhawatiran turut menyelimuti jatah makanan yang dibagikan. Sebagai bentuk perlawanan damai dan penolakan terhadap tekanan yang ada, Hendro menginisiasi aksi mogok makan.

"Sehingga ya pasti dari saya sendiri melakukan hunger strike, tidak makan rotinya sama sekali," jelasnya.

Selama berada di bawah kendali militer tersebut, perlakuan keras turut dirasakan para relawan. Berbagai bentuk tekanan fisik dilakukan, mulai dari pemukulan hingga penggunaan alat kejut listrik.

"Disetrum adalah penyiksaan yang paling menyakitkan buat saya," sambungnya.

Meskipun harus menanggung beban fisik dan mental serta belum berhasil menembus blokade laut, tekad para aktivis justru semakin kuat. Pengalaman penyekapan tersebut mereka jadikan landasan untuk tidak berhenti menyuarakan perdamaian di kancah internasional. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:liputan6.com
Kategori:Kuliner
wwwwww