Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
13 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Mahfud Bongkar Skenario 'ABS' di Istana, Informasi ke Presiden Prabowo Sering Disaring

Mahfud Bongkar Skenario ABS di Istana, Informasi ke Presiden Prabowo Sering Disaring
Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD
Kamis, 05 Februari 2026 08:21 WIB

JAKARTA – Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, melontarkan pernyataan mengejutkan mengenai carut-marut alur informasi di lingkaran kekuasaan. Dalam tayangan kanal YouTube Mahfud MD Official, ia menyebut adanya "saringan" berlapis yang menyebabkan laporan yang diterima Presiden sering kali tidak utuh dan jauh dari realitas lapangan.

Mahfud mengungkapkan bahwa birokrasi sering kali menjadi penghambat sampainya fakta yang sebenarnya kepada pemimpin negara. Kondisi ini menciptakan celah lebar antara data di atas kertas dengan jeritan masyarakat di bawah.

"Informasi yang sampai ke Presiden itu sering tidak utuh, saringannya banyak sekali. Sering terjadi beda antara yang dilaporkan dengan data lapangan," ujar Mahfud, Selasa (3/2/2026).

Fenomena informasi yang tidak sinkron ini diduga menjadi alasan kuat di balik manuver Presiden Prabowo Subianto yang belakangan rajin mengundang tokoh-tokoh kritis ke Istana. Mahfud menilai langkah tersebut sebagai bentuk kesadaran Presiden bahwa dirinya butuh masukan tanpa filter birokrasi.

Langkah Presiden membuka pintu bagi pihak luar lingkaran kekuasaan dianggap sebagai angin segar bagi demokrasi. Dengan mendengarkan masukan dari oposisi atau tokoh kritis, Presiden dinilai sedang berupaya mendapatkan data yang lebih jujur untuk merumuskan kebijakan negara.

"Kita gembira bahwa akhirnya Pak Prabowo melakukan itu. Presiden mau mendengar dari masyarakat yang orisinal," tambah Mahfud.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik pedas bagi para pembantu Presiden yang cenderung hanya melaporkan hal-hal manis demi menjaga citra. Mahfud menekankan bahwa perubahan budaya komunikasi ini sangat krusial agar setiap keputusan yang diambil negara benar-benar selaras dengan kenyataan dan kebutuhan rakyat, bukan sekadar berdasarkan laporan administratif yang telah dipoles.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Balai Kota, Parlemen
wwwwww