Hidup Pas-pasan dan Terbelit Utang, Guru Honorer Ini Masih Setia di Kelas
![]() |
| Guru honorer asal Subang ikut demo di Monas. (foto: liputan6.com/debby alifah maulida) |
JAKARTA – Enop, guru honorer asal Subang, Jawa Barat, duduk di tepi jalan kawasan Monas, Kamis (30/10/2025). Air matanya jatuh pelan, menyatu dengan riuh demonstrasi para guru honorer lain yang menuntut keadilan. Di balik wajah lelahnya, tersimpan kisah perjuangan panjang selama tujuh tahun mengajar tanpa gaji.
Sejak awal mengabdi di Sekolah Dasar Islam Madrasah Ibtidaiyah, Enop tak menerima bayaran sepeser pun. Ia tetap datang ke sekolah setiap pagi, meski harus menempuh perjalanan lebih dari lima kilometer. Kadang ia berjalan kaki, kadang meminjam uang untuk membeli bensin.
“Pernah enggak punya uang sama sekali. Cuma bisa bawa Rp10.000 buat beli beras. Tapi saya yakin Allah masih sayang,” tuturnya pelan.
Gaji pertama Enop baru datang setelah tujuh tahun mengabdi. Jumlahnya Rp250.000 per bulan, namun dibayarkan setahun sekali. Uang itu langsung habis untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anaknya.
“Saya enggak pernah dandan, uangnya enggak ada,” katanya lirih sambil tersenyum.
Hidup serba kekurangan tak membuat Enop menyerah. Ia mengajar dengan penuh semangat, meski tahu penghasilannya tak sebanding dengan pengorbanannya. Pada 2014, setelah lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG), Enop mulai digaji Rp2 juta per bulan. Namun, tanggung jawab keluarga tetap membuat hidupnya sulit.
Anak bungsunya masih kuliah, dengan biaya yang tak kecil. “Satu semester anak saya Rp8 juta, uang masuknya Rp17 juta,” ujarnya.
Untuk menutupi biaya pendidikan, Enop berutang ke sana-sini hingga menumpuk hampir Rp30 juta. Ia kerap menangis setiap malam, memikirkan cara melunasinya.
“Saya malu, tapi enggak punya pilihan. Orangnya ngerti, tahu saya cuma guru honor,” katanya sambil menahan air mata.
Meski berat, Enop mengaku tak menyesal memilih jalan sebagai guru. Baginya, mengajar adalah panggilan hidup. Ia hanya berharap pemerintah memberi keadilan bagi guru honorer seperti dirinya.
“Kalau bisa diangkat jadi ASN atau P3K tanpa tes. Kami sudah lama mengabdi,” keluhnya.
Jika keinginannya terkabul, Enop hanya ingin dua hal sederhana: membayar utangnya dan pergi haji bersama sang ayah.
“Saya cuma ingin bahagiakan ayah saya. Ibu sudah enggak ada,” ucapnya terisak.
Di tengah kehidupan yang serba terbatas, Enop tetap memegang teguh idealismenya. Ia terus berdiri di depan kelas, mengajarkan anak-anaknya membaca, menulis, dan bermimpi. Di balik kesederhanaannya, ia menyimpan kekuatan yang tak banyak dimiliki orang—keyakinan bahwa ilmu dan ketulusan akan selalu menemukan jalannya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Hukum |











