Ingatkan Prabowo Soal Nepotisme, Pengamat Bandingkan Hashim dan Probosutedjo
![]() |
| Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setpres RI) |
JAKARTA - Langkah Presiden Prabowo Subianto dalam membangun kekuatan politik mandiri menuju 2029 dinilai harus terbebas dari praktik nepotisme. Kehadiran sekitar 20 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang didirikan oleh sang adik, Hashim Djojohadikusumo, disorot sebagai potensi basis pendukung baru yang pengelolaannya perlu dilakukan secara proporsional.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah menyampaikan bahwa Prabowo saat ini masih ditopang oleh jejaring rezim lama di lingkungan legislatif, eksekutif, serta yudikatif. Kondisi ini menuntut adanya pembentukan kekuatan politik yang benar-benar independen.
Amir menyoroti posisi Hashim yang perlu ditempatkan secara hati-hati agar tidak terjebak dalam tabu politik. Ia mengambil contoh dari era Presiden Soeharto yang tidak membawa adik tirinya, Probosutedjo, ke ranah politik praktis, melainkan memberikannya porsi di bidang bisnis.
"Dalam politik, nepotisme itu tabu," tegasnya, Minggu (16/8/2026).
Kehadiran puluhan ormas bentukan Hashim tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi kendaraan politik baru, tetapi menjadi wadah pendukung yang solid bagi Prabowo. Amir juga memberikan catatan terkait sikap presiden terhadap isu-isu masa lalu.
"Belum ada ketegasan Prabowo terkait ijazah Jokowi dan Gibran. Prabowo harus membangun kekuatan baru," ingatnya.
Agar kekuatan baru ini efektif, verifikasi keanggotaan ormas menjadi hal utama. Amir meminta agar basis tersebut bersih dari pengaruh rezim sebelumnya serta tidak tumpang tindih dengan kepengurusan struktural partai.
"Kita berharap pengurus Gerindra tidak merangkap ormas itu. Jangan sampai tidak memverifikasi orang rezim lama ada di ormas tersebut," paparnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Parlemen |











