Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
7 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Home  /  Berita  /  Kampus

DPR Ungkap Ketimpangan Produksi Kedelai Nasional, Impor Masih Mendominasi

DPR Ungkap Ketimpangan Produksi Kedelai Nasional, Impor Masih Mendominasi
Kedelai. (Ist)
Jum'at, 14 Agustus 2026 14:24 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo, menyoroti ketimpangan produksi dan kebutuhan kedelai nasional yang membuat Indonesia masih bergantung pada impor.

Firman menyebut produksi kedelai Indonesia pada 2025 diperkirakan hanya 300.000-350.000 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 2,6-2,9 juta ton. Berdasarkan data BPS, impor kedelai pada 2025 mencapai 2,56 juta ton, sekitar 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat.

Menurut Firman, kondisi tersebut perlu segera diatasi karena kedelai merupakan bahan baku utama berbagai pangan masyarakat, terutama tahu dan tempe.

"Padahal, Indonesia memiliki varietas lokal seperti Grobogan dan Anjasmoro yang memiliki masa panen sekitar 80-90 hari dan dinilai memiliki kualitas yang baik," Katanya, Kamis (13/8/2026).

Firman meminta pemerintah melakukan intervensi dari hulu hingga hilir. Langkah yang didorong meliputi penyediaan sedikitnya 1 juta hektare lahan untuk budidaya kedelai, kepastian kemitraan dan penyerapan hasil panen, pengendalian impor, serta pengembangan benih unggul.

Produktivitas kedelai nasional yang saat ini sekitar 1,6 ton per hektare juga dinilai perlu ditingkatkan hingga 3-4 ton per hektare.

“Harus ada keberpihakan nyata agar petani kedelai sejahtera dan Indonesia bisa surplus kedelai,” kata Firman. ***

wwwwww