Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Home  /  Berita  /  Kuliner

86 Orang Tewas di Perbatasan Ceuta, Iran Sebut AS Hukum Spanyol Atas Perang Gaza

86 Orang Tewas di Perbatasan Ceuta, Iran Sebut AS Hukum Spanyol Atas Perang Gaza
Selasa, 04 Agustus 2026 18:30 WIB

JAKARTA - Eskalasi di perbatasan Ceuta yang menewaskan sedikitnya 86 orang memancing sorotan tajam dari Iran. Teheran menuduh Amerika Serikat bersama Israel sengaja mengoordinasikan gelombang masuknya 60.000 imigran asal Maroko ke wilayah Spanyol tersebut sebagai bentuk balas dendam politik atas sikap Madrid menentang operasi militer di Gaza, Timur Tengah.

Keterangan dari Kedutaan Besar Iran untuk Kenya merinci tuduhan bahwa pergerakan massa tersebut difasilitasi bekerja sama dengan otoritas negara tetangga. Teheran meyakini ini adalah strategi terpadu untuk menundukkan negara mana pun yang berani mengambil posisi berseberangan dengan Washington dan Tel Aviv.

Eksodus massal ini mencapai puncaknya semenjak Kamis hingga Sabtu pekan lalu. Mayoritas pendatang asal Maroko tersebut nekat mempertaruhkan nyawa melintasi laut dengan cara berenang. Kedatangan puluhan ribu orang yang jumlahnya mencapai 70 persen dari total penduduk lokal ini membuat aparat Ceuta kesulitan mengendalikan situasi.

Banyaknya korban jiwa tak terhindarkan dalam peristiwa eksodus ini. Tercatat 86 orang meninggal dunia, dengan penyebab utama akibat insiden tenggelam di perairan maupun terinjak-injak saat kerumunan mencoba menembus barikade pos pemeriksaan perbatasan Maroko-Spanyol.

Berdasarkan perspektif Iran, krisis yang melumpuhkan stabilitas Ceuta ini merupakan rancangan yang secara tidak langsung memberikan keuntungan elektoral bagi kelompok politik sayap kanan ekstrem di benua Eropa.

"Kekaisaran (AS) tidak pernah menoleransi pembangkangan," ungkap pernyataan Teheran yang dilansir oleh RT, Selasa (4/8/2026).

Baik pemerintah Amerika Serikat maupun Israel sejauh ini memilih bungkam dan belum merilis tanggapan atas tuduhan keterlibatan tersebut. Namun, krisis ini sempat memicu komentar dari Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon yang melemparkan kecaman terhadap pola penanganan imigran oleh pemerintah Spanyol.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inews.id
Kategori:Kuliner
wwwwww