Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
11 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
55 menit yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
5
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
52 menit yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
6
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
49 menit yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Ancaman Zat Kimia BPA dari Galon Guna Ulang Jadi Perhatian Serius KKI

Ancaman Zat Kimia BPA dari Galon Guna Ulang Jadi Perhatian Serius KKI
Jum'at, 29 Mei 2026 12:14 WIB
JAKARTA – Ketiadaan regulasi pembatasan masa pakai kemasan galon guna ulang dinilai sebagai celah yang membahayakan kesehatan masyarakat luas. Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyoroti risiko migrasi Bisphenol A (BPA) yang meningkat tajam pada wadah plastik yang dipakai berulang kali melebihi batas waktu aman.

Menurut data yang dihimpun KKI, pemakaian galon yang ideal seharusnya dibatasi secara ketat untuk mencegah luruhnya zat kimia pengganggu sistem endokrin tersebut ke dalam air minum konsumsi warga.

"Kenapa ini sangat dibutuhkan? Karena berdasarkan penelitian, itu maksimum itu 40 kali pengisian ulang, dan tidak sampai 2 tahun, kalau mau mencegah BPA-nya itu luruh, gitu ya," urai Ketua KKI, David ML Tobing, Jumat (29/5/2026).

Tingginya potensi risiko ini membuat KKI mendesak pemerintah agar segera menyusun dan memberlakukan regulasi khusus. Selama ini, absennya aturan membuat kemasan air minum beredar bebas tanpa pencantuman masa kedaluwarsa yang jelas.

"Saya berusaha mencari aturan tentang kedaluwarsa kemasan air minum isi ulang (galon), belum ada. Untuk galon tidak dicantumkan kedaluwarsanya. Hal ini yang harusnya menjadi perhatian pemerintah," katanya.

Minimnya pengawasan usia galon terbukti memicu tingginya angka keluhan di lapangan. Dari 250 laporan yang diterima KKI belakangan ini, masalah fisik seperti galon yang lusuh, kotor, dan kusam mendominasi hingga 30 persen, sementara galon penyok mencapai 2 persen.

Masalah ini semakin kompleks ketika galon-galon tanpa masa kedaluwarsa tersebut masuk ke jalur distribusi depot isi ulang eceran.

"Galon ini sudah beredar, bisa jadi ke pengisian-pengisian air yang rumah tangga. Kalau diisi ulang di rumah-rumah tangga, kita tidak tahu apakah cara pencuciannya sesuai standar, isi airnya juga sesuai standar," ungkapnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Kesehatan
wwwwww