Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
16 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
5
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Di Balik Istilah Rojali-Rohana, Tersimpan Kekecewaan Publik atas Ekonomi Riil

Di Balik Istilah Rojali-Rohana, Tersimpan Kekecewaan Publik atas Ekonomi Riil
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.
Rabu, 06 Agustus 2025 05:46 WIB

JAKARTA – Fenomena viral istilah “Rojali” (rombongan jarang beli) dan “Rohana” (rombongan hanya nanya) yang ramai di media sosial bukan sekadar candaan. Di balik kelucuan istilah itu, tersimpan keresahan publik terhadap situasi ekonomi yang terasa semakin berat di lapangan.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengaku tak nyaman dengan fenomena tersebut. Ia menilai istilah itu seharusnya dipahami sebagai kritik sosial, bukan bahan hiburan.

“Menurut saya, ini lecutan buat kita. Jangan dianggap bahan bercanda. Ini pertanda masih banyak hal yang harus kita perjuangkan,” kata Prasetyo, Selasa (5/8/2025).

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa sindiran ini menjadi pengingat bahwa pemerintah perlu lebih fokus meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, dan mencegah kebocoran anggaran yang kerap menjadi sumber kekecewaan rakyat.

Namun, pernyataan berbeda disampaikan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia menilai fenomena Rojali dan Rohana tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara utuh. Menurutnya, daya beli masyarakat masih kuat jika merujuk pada data pertumbuhan sektor ritel dan inflasi inti yang rendah.

“Ini isu yang ditiup-tiup. Penjualan ritel tetap tumbuh positif. Inflasi kita juga terkendali di 2,32 persen,” ujar Airlangga dalam konferensi pers.

Tapi fakta lapangan tak selalu sejalan dengan laporan angka. Narasi "Rojali" dan "Rohana" lahir dari pengalaman banyak warga yang berkunjung ke mal, toko, atau pusat belanja—banyak yang hanya melihat-lihat, tak banyak yang belanja. Sebuah realita diam-diam yang berbicara lebih lantang dari grafik.

Fenomena ini membuktikan bahwa rakyat tak harus turun ke jalan untuk menyampaikan kritik. Cukup lewat istilah lucu, pesan pun sampai: ekonomi belum pulih merata. Pertanyaannya kini, apakah pemerintah hanya akan menjelaskan, atau mulai mendengarkan?. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Balai Kota
wwwwww