Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
13 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Kampus

Bidan Dona Lawan Arus Sungai di Pedalaman Pasaman Demi Pasien, Pengabdian yang Tak Terekam Sistem

Bidan Dona Lawan Arus Sungai di Pedalaman Pasaman Demi Pasien, Pengabdian yang Tak Terekam Sistem
Bidan Dona Lubis menyeberangi sungai sendirian, membawa peralatan medis di punggung, demi menjangkau seorang warga yang sedang kritis.
Rabu, 06 Agustus 2025 09:20 WIB

PASAMAN – Tidak ada helikopter evakuasi, tidak ada jalur darurat. Hanya sungai deras yang memisahkan seorang pasien dari pertolongan. Namun bagi Bidan Dona Lubis, itu bukan alasan untuk menunggu. Ia memilih menyeberangi sungai sendirian, membawa peralatan medis di punggung, demi menjangkau seorang warga yang sedang kritis.

Kejadian ini berlangsung di Nagari Cubadak, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Aksi heroik sang bidan terekam dan viral di media sosial, memancing rasa kagum sekaligus keprihatinan terhadap kondisi pelayanan kesehatan di pelosok.

“Saya tahu risikonya, tapi saya lebih takut kalau pasien tidak tertolong. Itu saja yang saya pikirkan,” kata Dona, Selasa (5/8/2025).

Jembatan penghubung menuju lokasi pasien dilaporkan roboh usai diterjang hujan. Tak ada akses alternatif. Maka Dona, yang sudah bertugas sejak 1999, melangkah ke sungai, berpegangan pada batu dan berusaha melawan arus agar bisa menunaikan tugasnya.

Meski pertama kali harus berhadapan dengan sungai, bagi Dona tantangan seperti ini bukan hal baru. Ia sudah biasa pergi ke rumah pasien malam hari, bahkan saat cuaca buruk.

“Kalau berangkat malam-malam, atau hujan-hujan, sudah sering. Tapi menyeberangi sungai begini, ini baru sekali,” ujarnya.

Aksi Bidan Dona mencerminkan sisi lain dari sistem kesehatan Indonesia—di mana dedikasi individu sering kali menambal minimnya fasilitas dan keterbatasan akses. Perjuangan sunyi di medan yang tak terlihat oleh laporan statistik atau grafis anggaran.

Kisah ini seharusnya menjadi pemicu bagi pembuat kebijakan, bahwa keberanian seperti milik Dona tidak bisa diandalkan selamanya. Sistem harus hadir, infrastruktur harus dibangun, dan nyawa di pelosok berhak mendapat perlindungan yang sama. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Kategori:Kampus, Balai Kota, Kesehatan, Binawidya, Nasional
wwwwww