Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
4 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Gelanggang
Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Gagal Penuhi Ambisi dan Raih Perak, Sumaya: Next Harus Banyak Latihan

Gagal Penuhi Ambisi dan Raih Perak, Sumaya: Next Harus Banyak Latihan
Atlet teqball putri Indonesia, Sumaya meraih perak di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. (Foto: Kemenpora)
Minggu, 20 September 2026 17:55 WIB
Penulis: Azhari Nasution
NAGOYA - Atlet teqball putri Indonesia asal Riau, Sumaya gagal memenuhi ambisinya meraih medali emas. Namun, atlet putri asal Riau ini telah menorehkan sejarah bagi teqball Indonesia dengan mempersembahkan medali perak pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Dalam pertandingan final tunggal putri yang berlangsung di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang, Minggu (20/9/2026), Sumaya gagal menebus kekalahan dan takluk dari wakil Myanmar, Wai Khin Hnin dengan skor akhir 12-10, 8-12 dan 9-12.

Medali ini menjadi perak pertama Kontingen Indonesia pada Asian Games 2026 sekaligus medali bersejarah dalam debut teqball Indonesia di ajang multievent terbesar Asia tersebut.

Dengan hasil ini, teqball telah menyumbangkan satu medali perak dan satu perunggu dan untuk Kontingen Merah Putih di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Hasil ini menjadi catatan sejarah untuk teqball yang pertama kali dipertandingkan di multievent olahraga Asia itu

Meski gagal meraih emas, atlet 21 tahun itu tetap bangga dengan perjuangannya. “Saya bangga dengan diri sendiri walaupun kalah. Saya ingin latihan lebih keras lagi. Medali perak ini saya persembahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan negara,” ujar Sumaya.

Sumaya mengakui masih banyak hal yang perlu dievaluasi, terutama dalam mengurangi kesalahan-kesalahan kecil. “Sebenarnya pikiran saya cuma ingin satu poin naik, tetapi karena banyak kesalahan jadi susah untuk menang. Saya masih penasaran untuk mengalahkan Myanmar itu. Next mungkin harus lebih banyak latihan lagi,” katanya.

Perjuangan Sumaya di partai final mendapatkan banyak dukungan langsung dari suporter Indonesia. Buat Sumaya, dukungan penonton turut memberikan energi dan semangat tambahan.

Terlebih, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora) RI, Erick Thohir, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Todotua Pasaribu juga turut hadir di lapangan.

"Saya tidak terlalu tertekan. Nervous masih bisa saya alihkan, tetapi memang keadaannya tidak memungkinkan. Kehadiran suporter memberikan saya semangat,” ungkapnya.

Pencapaian ini menjadi bagian dari perjalanan unik Sumaya yang telah menekuni sepak takraw sejak SMP. Setelah tidak terpilih untuk PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, Sumaya mendapat kesempatan beralih ke cabor teqball.

“Kalau sulit, lebih sulit teqball. Gerakannya berbeda, mejanya kecil, tapi saya lebih menikmati main teqball karena lebih menantang. Sampai sekarang, saya tidak menyesal pindah ke teqball,” ujar Sumaya.

Perjalanan Sumaya kemudian berlanjut dari Kejuaraan Nasional, International Series di Bangkok, SEA Games hingga Asian Games. Sebelumnya, ia meraih perunggu dari nomor mixed double pada SEA Games Thailand 2025. ***

wwwwww