Gandeng Oman Kelola Hormuz, Iran Tetap Tuntut Ganti Rugi Amerika
![]() |
| Selat Hormuz (Foto: REUTERS/Stringer) |
JAKARTA - Jalur perairan Selat Hormuz dipastikan tidak akan beroperasi penuh hingga Amerika Serikat menuntaskan kewajiban kompensasi perang dan deretan tuntutan lainnya kepada Garda Revolusi Islam Iran. Penutupan rute pengiriman energi ini terbukti telah mengacaukan mekanisme pasar dan memicu lonjakan harga.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menetapkan daftar persyaratan tersebut pada Sabtu (8/8/2026). Poin-poin yang diminta meliputi penghentian perang di segala front, pencabutan sanksi, pembukaan blokade pelabuhan Iran, pencairan aset yang dibekukan, serta ganti rugi kerusakan perang. Daftar ini mempertegas ketentuan perjanjian Juni lalu mengenai ketersediaan dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar bagi Teheran.
Iran bersikeras mempertahankan penguasaan Selat Hormuz pascalaga dan berencana menarik biaya pelayaran dari kapal-kapal komersial. Mereka bahkan tercatat berulang kali menyerang armada yang dinilai mencoba memutar dari rute yang diinginkan. Garda Revolusi pada Minggu (9/8/2026) mendeklarasikan keberlanjutan taktik penutupan ini. "Sampai musuh menerima semua syarat kami, selat tersebut sekarang benar-benar menjadi medan perang bagi kami dan bukan hanya jalur perairan," tegasnya.
Menghadapi sikap tersebut, Presiden AS Donald Trump pada Minggu (9/8/2026) mengutarakan pandangannya lewat wawancara dengan Axios. "Kita bersikap tenang," sebutnya.
Trump memilih untuk memperhatikan kondisi internal Iran ketimbang merespons secara reaktif. "Kita hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kita hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," jelasnya. Ia meyakini taktik santai ini bernilai strategis. "Ini akan berhasil, ini seperti permainan catur," tambahnya.
Di ranah diplomatik, Oman saat ini berperan sebagai mediator regional untuk membahas pengelolaan Selat Hormuz bersama Teheran. Fokus perundingan mencakup penyusunan aturan hukum serta mekanisme pelayaran baru yang memuat penentuan rute navigasi sementara untuk jangka panjang. Walau negosiasi ini berjalan, pejabat Iran mengingatkan bahwa kesepahaman dengan Oman tidak menjamin selat tersebut akan langsung dibuka kembali secara total.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Kuliner |











