Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
13 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
2
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
5
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
3 jam yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
6
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
3 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Proyeksi ADB 2026, Tempatkan Ekonomi Indonesia Terkuat Kedua di ASEAN

Proyeksi ADB 2026, Tempatkan Ekonomi Indonesia Terkuat Kedua di ASEAN
Ilustrasi (net)
Jum'at, 10 Juli 2026 17:20 WIB

JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) resmi mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,2 persen untuk tahun 2026. Laporan ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan laju ekonomi tertinggi kedua di Asia Tenggara, persis di bawah Vietnam, meski kawasan tersebut tengah menghadapi perlambatan ekonomi.

Data tersebut tertuang dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) edisi Juli 2026 yang dirilis ADB di Jakarta, Jumat (10/7/2026). Angka 5,2 persen ini tercatat tidak mengalami perubahan dari proyeksi awal yang dikeluarkan April 2026 lalu.

Peringkat Pertumbuhan ASEAN

Berdasarkan dokumen ADB, proyeksi Indonesia berhasil melampaui sejumlah negara utama di ASEAN. Berikut rincian proyeksi negara lainnya:

  • Vietnam menempati urutan pertama dengan 7,2 persen.
  • Malaysia diprediksi tumbuh 4,6 persen.
  • Filipina mencapai 3,8 persen (satu-satunya negara utama ASEAN yang direvisi turun dari proyeksi April 2026 sebesar 4,4 persen).
  • Thailand menempati posisi terbawah dengan 1,8 persen.

Secara agregat, ADB memangkas proyeksi pertumbuhan negara berkembang di Asia Tenggara menjadi 4,6 persen dari sebelumnya 4,7 persen. Pemangkasan serupa terjadi di kawasan Asia dan Pasifik yang turun menjadi 4,9 persen untuk tahun 2026, lebih rendah dari proyeksi 5,1 persen yang dipublikasikan bulan April.

Risiko Energi dan Kenaikan Inflasi

Melambatnya proyeksi kawasan dipicu oleh gangguan berkepanjangan pada pasar energi global imbas konflik di Timur Tengah. Kondisi ini merembet pada lonjakan harga pupuk, harga komoditas lain, serta mengacaukan rantai pasok global.

"Jika berjalan baik, pelaksanaan kesepakatan kerangka kerja akan membantu normalisasi pasar energi global. Namun, seberapa cepat penyesuaian tersebut terjadi masih sangat tidak pasti dengan risiko pemburukan yang signifikan," ungkap Kepala Ekonom ADB Albert Park.

Albert memaparkan pemerintah harus mahir menyeimbangkan strategi pendorong pertumbuhan ekonomi dengan pengendalian inflasi. Khusus untuk Indonesia, ADB merevisi naik proyeksi inflasi 2026 menjadi 3 persen dari awalnya 2,5 persen. Namun, angka tersebut dinilai masih aman karena berada di bawah rata-rata inflasi Asia Tenggara yang diprediksi menembus 3,9 persen.

ADB turut menyalakan alarm peringatan mengenai tingginya risiko ekonomi kawasan. Potensi eskalasi konflik geopolitik, ketidakpastian kebijakan perdagangan global, hingga kondisi keuangan yang kian ketat menjadi tantangan utama. Kenaikan harga pupuk juga berisiko kuat menekan produksi pertanian dan memperburuk ketahanan pangan di negara berkembang.

Respons Menko Airlangga Soal Konsumsi Masyarakat

Di tengah bayang-bayang krisis eksternal, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap optimistis. Ia meyakini laju perekonomian domestik akan mengalami penguatan.

"Ya, nanti kita lihat menjelang kuartal III, kuartal IV (ekonomi) akan naik lagi," papar Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta.

Pernyataan ini menjawab rilis data Bank Indonesia terkait Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Tercatat, IKK Juni 2026 merosot ke level 117,8 dibandingkan capaian 120,9 bulan Mei 2026. Airlangga menilai tren penurunan ini wajar dan tidak mengkhawatirkan.

"(IKK) masih di atas 100. Aman. Kemarin kan ada Lebaran. Lebaran kan enggak tiap kuartal. Biasanya habis Lebaran turun sedikit," tambahnya.

Lampu Merah Sektor Manufaktur

Berbeda dengan kondisi konsumen, sektor manufaktur justru menghadapi kontraksi nyata. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia anjlok ke angka 46,9 bulan Juni 2026.

Situasi ini mendapat sorotan dari ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini. Ia menegaskan anjloknya PMI harus dijadikan momentum perbaikan iklim usaha dan transformasi industri nasional melalui investasi yang berkualitas.

Menurutnya, angka di bawah level 50 menunjukkan industri manufaktur sedang kehilangan daya saing. Hal ini membutuhkan kebijakan konsisten demi menyokong investasi produktif dan penciptaan lapangan kerja, yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

"Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50," jelas Didik.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kampus, Pasar & Niaga, Binawidya
wwwwww