Okto, Penjaga Merah Putih Yang Mengukir Sejarah di Dunia Balap Sepeda
![]() |
| Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari. (NOC Indonesia) |
Penulis: Azhari Nasution
“Sejak saya mengenal Okto, semangatnya tidak pernah padam. Ia selalu ingin tahu, berkembang, dan konsisten membawa kemajuan balap sepeda tidak hanya di Indonesia, tapi juga Asia dan dunia. Tidak semua orang bisa melakukannya,” ujar Presiden UCI David Lappartient memberikan pujian usai Okto menerima penghargaan bergengsi UCI Merit Award 2025.
Dalam sejarah olahraga Indonesia, Okto telah tercatat menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan UCI Merit Award. Praktis, penghargaan itu merupakan bentuk pengakuan dunia atas komitmen, konsistensi, dan kontribusinya luar biasa yang dibuat Okto dalam memajukan olahraga balap sepeda, baik di Indonesia dan Asia.
“Saya benar-benar kaget, terharu, sekaligus bangga. Ini adalah pertamakalinya saya datang ke Afrika, dan ternyata mendapat kehormatan luar biasa dari UCI. Saya ingin menegaskan, ini bukan pencapaian pribadi saya, melainkan hasil kerja keras tim yang selalu mencintai balap sepeda, khususnya di Indonesia. Terima kasih UCI atas penghargaan ini,” ujar Okto yang tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangganya.
Kecintaan Okto terhadap olahraga sepeda mulai terlihat jelas sejak ia duduk di bangku SMP, tetapi keterlibatannya dalam olahraga ini resmi dimulai ketika menjabat sebagai Ketua Pengurus Provinsi Ikatan Sport Sepeda Indonesia (Pengprov ISSI) DKI Jakarta pada tahun 2011. Empat tahun kemudian, ia terpilih sebagai Presiden Federasi Nasional.
Sebagai Ketua Umum PB ISSI, ia telah meningkatkan kualitas pelatihan atlet dan pendidikan pelatih, mengamankan ajang-ajang di kalender UCI, dan meningkatkan kualitas tempat pertandingan. Dalam upayanya pengembangan atlet-atlet Indonesia ke tingkat tertinggi, ia berhasil mengupayakan para atlet Indonesia untuk mendapatkan beasiswa berlatih di UCI World Cycling Centre di Aigle, Swiss.
Hal ini menghasilkan beberapa kisah sukses, seperti Indonesia untuk pertama kalinya meloloskan atlet ke Olimpiade ketika Toni Syarifudin berkompetisi di ajang balap BMX di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dimana Okto sebagai Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia.
Sebagai Presiden Federasi Nasional, Okto juga berperan penting dalam keberhasilan Indonesia menggelar ajang-ajang event internasional besar dan berkontribusi pada kesuksesan cabang olahraga sepeda di Asian Games 2018. Bahkan, Okto yang menjabat Ketua Panitia Penyelenggara Asian Para Games menjadi kunci kesuksesan Indonesia saat menggelar Para Asian Games 2018.

Apa yang diraih Okto ini merupakan buah dari komitmennya terus membangun olahraga Indonesia dan menjaga eksistensi Merah Putih di kancah internasional. Sejak menjabat Ketua NOC Indonesia, Okto boleh disebut telah lulus dengan prediket terbaik di tengah gelombang ancaman menerpa Merah Putih di ajang event internasional.
Pada periode pertama sebagai Ketua NOC Indonesia 2019-2023, Okto yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Gugus Tugas mampu merajut Merah Putih yang tergores dalam kurun waktu tiga bulan saat Indonesia terkena sanksi Lembaga Anti Doping Dunia (WADA) pada 7 Oktober 2021.
Pada periode kepemimpinan 2023-2027, Okto kembali menyelesaikan badai ancaman yang menerpa Merah Putih. Dia mampu mengupayakan tiga Federasi Olahraga Nasional dari cabang olahraga tenis meja, anggar dan tinju amatir tetap berada di jalur Federasi Internasional.
Di Federasi Anggar Internasional (FIE) masih tetap tercatat PB IKASI, di Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF) ada Indonesia Pingpong League (IPL) yang baru disahkan beberapa waktu lalu, dan di World Boxing (WB) telah terdaftar Pengurus Besar Tinju Indonesia (PERBATI).
Tidak hanya sebatas itu saja. Okto yang dikenal piawai dalam diplomasi olahraga ini bergandengan tangan dengan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) berhasil mendorong cabang olahraga pencak silat dipertandingkan pada Asian Youth Games (AYG) di Bahrain, 22-31 Oktober 2025.
Kini, tinggal Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pimpinan Menpora Erick Thohir yang menegakkan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2022 dimana Federasi Nasional wajib menjadi anggota Federasi Internasional khususnya olahraga prestasi. Dengan demikian, olahraga Indonesia bisa kembali bangkit dan atlet tidak lagi menjadi korban. ***
| Kategori | : | Gelanggang, Binawidya |











