Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
2
Polresta Pekanbaru Bongkar Budidaya 53 Pot Ganja di Sail, Pengedar Terjebak Undercover Buy
Sail
23 jam yang lalu
Polresta Pekanbaru Bongkar Budidaya 53 Pot Ganja di Sail, Pengedar Terjebak Undercover Buy
3
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
2 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
4
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Nasional
3 jam yang lalu
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
5
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
3 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
6
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
1 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Home  /  Berita  /  Nasional

Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali

Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Jum'at, 06 November 2026 15:43 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan perluasan ekosistem hilirisasi mineral kritis untuk menjawab tantangan industri masa depan. Melalui penyelenggaraan Forum Energi Indonesia-Korea ke-16 di Bali, Rabu (28/10/2026), pemerintah bersama holding pertambangan MIND ID mendorong pengolahan komoditas bauksit, tembaga, dan timah. Kebijakan ini dirumuskan agar tulang punggung industri pengolahan nasional tidak hanya bertumpu pada nikel semata.

Arahkan Pembuatan Material Maju

Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Yan Abrar menjelaskan, keragaman kekayaan alam domestik harus dimaksimalkan secara menyeluruh. Pengembangan komoditas tambang tersebut perlu ditarik lebih jauh hingga menyentuh lini industri material maju serta pabrikasi manufaktur.

Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM hingga September 2026 mencatat dominasi produksi bijih nikel sebanyak 225,3 juta ton. Kendati jumlahnya mendominasi, potensi sumber daya lainnya juga menembus angka yang masif, meliputi 114,9 juta ton bijih tembaga, 23,43 juta ton bijih bauksit, serta 57,24 ribu ton bijih timah.

Komoditas pendamping ini memegang peran sentral dalam menopang kebutuhan teknologi terkini dunia. Bauksit disiapkan untuk memasok kebutuhan alumina dan aluminium, tembaga akan diserap guna membangun infrastruktur kelistrikan, sementara timah difokuskan untuk menopang beragam komponen perangkat elektronik.

"Keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya volume mineral yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah," urai Department Head of Downstream & Mineral Ecosystem Energy MIND ID Novi Muharam lewat keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).

Kolaborasi Inovasi Daur Ulang

Permintaan pasar global terhadap aneka mineral kritis diproyeksikan melonjak tajam menjelang tahun 2030, sejalan dengan tren transisi energi dan penetrasi kendaraan listrik. Merespons peluang tersebut, otoritas terkait berupaya membangun rantai operasional yang terintegrasi secara utuh dari area eksploitasi hingga fasilitas hilir.

Yan memaparkan, penguatan daya saing sektor pengolahan membutuhkan kesiapan fasilitas teknologi, ketersediaan pasokan energi, serta efisiensi logistik. Sebagai instrumen percepatan, Indonesia menjajaki sinergi dengan Korea Selatan guna mengadopsi kecakapan teknologi pengolahan dan manufaktur yang dimiliki negara tersebut.

Kolaborasi lintas negara ini rupanya turut menyasar optimalisasi penanganan limbah sisa operasional pertambangan. Lewat penerapan teknologi pemulihan khusus, sisa buangan material tambang bisa didaur ulang menjadi bahan baku sekunder bernilai ekonomi guna mempertebal pasokan industri manufaktur. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Nasional
wwwwww