Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
25 menit yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Kulim

Kabut Asap Pekat Kepung Kulim Pekanbaru, Warga Makin Tersiksa Akibat Listrik Padam

Kabut Asap Pekat Kepung Kulim Pekanbaru, Warga Makin Tersiksa Akibat Listrik Padam
Minggu, 18 Oktober 2026 14:51 WIB
KULIM – Derita warga Kelurahan Sialang Rampai, Kecamatan Kulim, Kota Pekanbaru seolah jatuh tertimpa tangga. Di saat udara permukiman diselimuti kabut asap pekat sisa kebakaran hutan dan lahan, aliran listrik di wilayah tersebut justru padam secara mendadak pada Minggu (18/10/2026), memicu rasa sesak dan ketidaknyamanan yang mendalam di dalam rumah.

Kondisi ini membuat ratusan kepala keluarga di kawasan RW 02 kewalahan. Ketiadaan daya listrik menghentikan fungsi kipas angin dan pendingin ruangan yang selama ini menjadi benteng terakhir untuk menyaring udara kotor. Alhasil, asap berbau sangit dengan leluasa menyusup ke ruang tamu hingga kamar tidur tanpa bisa dihalau.

Seorang warga setempat, Rahmat Handayani mempertanyakan kejanggalan gangguan jaringan ini. Menurut pantauannya, pemadaman terjadi saat cuaca sedang terik tanpa adanya tanda-tanda hujan lebat maupun terjangan angin kencang di sekitar permukiman.

"Ada apa ini? Mengapa listrik padam tanpa adanya gangguan alam di lokasi kami," keluhnya dengan nada kecewa.

Rahmat menjelaskan bahwa ketersediaan daya listrik saat ini bukan lagi sekadar penunjang kenyamanan, melainkan fasilitas krusial untuk bertahan hidup di tengah kualitas udara yang memburuk. Kepulan polusi yang terperangkap di dalam hunian sangat mengancam pernapasan, terutama bagi balita dan anak-anak.

"Anak-anak kami ikut terdampak karena asap mengepung isi rumah. Kalau jendela dibuka, udara luar makin parah masuknya. Sementara perabotan elektronik untuk sirkulasi udara mati total," bebernya.

Meski pihak otoritas penyedia layanan kelistrikan wilayah Kota Timur telah melayangkan permohonan maaf melalui layanan pelanggan, warga menilai hal itu belum cukup menjawab persoalan darurat di lapangan. Mereka mendesak pengerahan regu teknis secara masif untuk menuntaskan akar gangguan, bukan sekadar memberikan jawaban normatif yang mengambang.

"Jangan biarkan masyarakat terlalu lama terkurung dalam kondisi darurat seperti ini. Kami mendesak pemulihan pasokan secepatnya agar aktivitas dan kesehatan keluarga tidak makin terancam," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, aliran daya di kawasan Sialang Rampai terpantau belum kunjung menyala. Warga masih bertahan di dalam rumah, menanti langkah perbaikan nyata agar mereka tak lagi harus berjibaku melawan kegelapan sekaligus kepungan udara yang berisiko bagi kesehatan. ***

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Warga Bertuah, Kulim
wwwwww