Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
5 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Imbas Minyak Dunia Melambung, Nilai Tukar Rupiah Melemah Jelang Pengumuman BI

Imbas Minyak Dunia Melambung, Nilai Tukar Rupiah Melemah Jelang Pengumuman BI
Ilustrasi (net)
Selasa, 22 September 2026 12:43 WIB

JAKARTA - Papan perdagangan mata uang asing pada Selasa (22/9/2026) pagi menunjukkan pergerakan yang kurang menggembirakan bagi pasar domestik. Mendekati momen krusial pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI), nilai tukar Rupiah semakin tertekan hingga nyaris menembus angka Rp17.900 per Dolar AS.

Mengutip data pergerakan pasar di Bloomberg hingga pukul 09.50 WIB, posisi mata uang Garuda terpantau berada pada level Rp17.899 per Dolar AS. Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 52 poin atau merosot 0,29 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Gejolak Timur Tengah dan Efek Domino

Pelemahan nilai tukar ini tidak lepas dari rentetan dinamika global yang terus bergejolak. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengurai bahwa situasi inflasi global yang tinggi menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang.

Tekanan tersebut makin berat melihat harga minyak dunia yang saat ini masih kokoh bertahan di atas 100 Dolar AS per barel. "Lonjakan harga minyak ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang belum mereda," papar Ibrahim.

Antisipasi Kebijakan Bank Indonesia

Situasi eksternal yang serba tak pasti membuat para pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang rencananya digelar pada Rabu (23/9/2026). Ibrahim memprediksi bahwa otoritas moneter tersebut kemungkinan besar akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) guna merespons gejolak nilai tukar.

Ia menyebutkan, pasar saat ini sangat mencermati langkah BI di tengah fluktuasi Rupiah dan kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi. Menurutnya, sebagian bank sentral dunia masih memilih sikap hawkish atau mengetatkan kebijakan, sementara yang lain masih menahan posisi suku bunganya karena memiliki ruang pelonggaran.

Langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 bps dinilai membuka peluang besar bagi BI untuk mengikuti jejak serupa. Meskipun Gubernur BI, Destry Damayanti sebelumnya sempat menyatakan bahwa tingkat suku bunga di Indonesia saat ini sudah tergolong tinggi karena BI telah melakukan kenaikan akumulatif hingga 100 basis poin, faktor eksternal memaksa pasar berpikir sebaliknya.

"Melihat kondisi saat ini dimana Bank Sentral Amerika sudah menaikkan 25 basis poin, ada kemungkinan besar Bank Indonesia mengambil langkah yang sama pada pertemuan pekan ini," tandasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Pasar & Niaga
wwwwww