Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
3 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Opini

Tragedi Kemanusiaan di Danau Habema, DPR Minta Aparat Segera Evakuasi Sandera KKB

Tragedi Kemanusiaan di Danau Habema, DPR Minta Aparat Segera Evakuasi Sandera KKB
Jenazah Aris Sanda, sopir travel asal Lembang Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, masih disemayamkan di rumah duka setelah tiba di kampung halamannya, Sabtu (19/9/2026).
Minggu, 20 September 2026 15:55 WIB

JAKARTA - Hilangnya nyawa seorang pengantar logistik dan tertahannya tujuh perempuan di bawah ancaman senjata membuka kembali luka kemanusiaan di tanah Papua. Insiden fatal yang didalangi kelompok kriminal bersenjata (KKB) ini memicu desakan kuat agar negara hadir memberikan jaminan keselamatan esktra, terutama bagi warga sipil yang terjebak di tengah pusaran konflik.

Melihat jatuhnya korban yang terus berulang, Anggota Komisi XIII DPR RI Fauqi Hapidekso menuntut jajaran kepolisian dan pemerintah mengambil langkah taktis. Ia menilai perlindungan terhadap warga negara yang beraktivitas di wilayah berisiko tinggi adalah kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar.

"Keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas. Jangan sampai masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik justru menjadi korban," terang politikus Fraksi PKB tersebut, Minggu (20/9/2026).

Ancaman Nyata Para Pejuang Rupiah

Fauqi memaparkan bahwa masyarakat sipil memiliki hak fundamental untuk menjalankan roda kehidupan keseharian, mencari nafkah, serta bepergian tanpa dibayangi ancaman letusan senjata. Tragedi yang menimpa para pekerja di lapangan menunjukkan betapa rentannya sistem keamanan publik di wilayah tersebut.

"Dimana pun mereka berada, mereka adalah warga negara yang hak hidup dan keselamatannya harus dilindungi. Tidak boleh ada warga yang merasa bahwa ketika mereka berada di wilayah tertentu, nyawa mereka menjadi tidak berharga," paparnya lebih lanjut.

Dirinya juga menggarisbawahi perlunya operasi penyelamatan yang sangat diperhitungkan agar warga yang masih disandera bisa kembali ke pelukan keluarga tanpa memicu jatuhnya korban baru. Transparansi informasi dari aparat juga dituntut agar keluarga tidak tersiksa oleh ketidakpastian.

Jejak Kekerasan dari Wamena ke Jila

Peringatan dari parlemen ini merujuk pada dua peristiwa berdarah yang terjadi berdekatan. Insiden pertama menimpa Aris Sanda, pria asal Toraja yang berprofesi sebagai sopir travel. Saat melintasi jalur distribusi logistik Wamena-Mbua di Kabupaten Jayawijaya, ia dicegat, disandera, lalu dieksekusi tembak oleh KKB. Aparat menemukan jenazahnya tertinggal di dalam bangkai kendaraannya yang dibakar dekat Danau Habema, Papua Pegunungan.

Di lokasi terpisah, tepatnya di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, kelompok bersenjata juga menyasar kaum perempuan. Tercatat sembilan perempuan diculik tepat pada 17 Agustus 2026. Hingga kini, aparat mencatat satu korban tewas terbunuh, satu berhasil diselamatkan, dan tujuh lainnya masih dalam status penyanderaan di bawah kekuasaan KKB.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Opini
wwwwww