Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
3 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Kampus

Karhutla Tewaskan 12 Bekantan di Kalsel, Usman Husin Soroti Penanganan Pemerintah

Karhutla Tewaskan 12 Bekantan di Kalsel, Usman Husin Soroti Penanganan Pemerintah
Bekantan. (Ilustrasi/bekantan.org)
Jum'at, 18 September 2026 15:41 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali menimbulkan dampak serius terhadap satwa liar. Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati akibat kebakaran yang terjadi di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Menanggapi peristiwa tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin, meminta Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meningkatkan kecepatan dan efektivitas penanganan karhutla sejak api mulai terdeteksi.

Menurut Usman, pemadaman harus dilakukan sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas dan mengancam habitat serta kehidupan satwa yang dilindungi.

“Seharusnya sejak awal kebakaran terjadi, pemerintah melalui instansi terkait sudah melakukan pemadaman secara cepat dan maksimal. Jangan sampai api meluas dan kemudian mengancam habitat satwa serta keselamatan masyarakat,” ujar Usman.

Berdasarkan laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, tim menemukan 12 individu bekantan yang mati akibat kebakaran lahan di Desa Balimau. Selain itu, ditemukan pula satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra yang turut menjadi korban kebakaran.

Usman menilai kejadian tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan kebakaran lahan, tetapi juga menyangkut perlindungan ekosistem dan satwa liar.

Ia juga mendorong adanya langkah antisipasi dan evakuasi terhadap satwa dilindungi yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak kebakaran.

“Satwa-satwa yang berada di lokasi rawan kebakaran harus menjadi perhatian. Jika kondisi memungkinkan, perlu dilakukan penyelamatan atau evakuasi agar korban tidak terus bertambah,” katanya, Jumat (18/9/2026).

Usman meminta Kemenhut bersama pemerintah daerah, BKSDA, pemadam kebakaran dan instansi terkait memperkuat koordinasi di lapangan. Pemantauan titik api juga dinilai perlu dilakukan secara intensif agar kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.

Sementara itu, BKSDA Kalsel menyebut kawasan yang terbakar di Desa Balimau merupakan areal penggunaan lain (APL), terdiri atas tanah desa dan tanah milik masyarakat. Kawasan tersebut merupakan bagian dari wilayah jelajah bekantan. Menurut keterangan kepala desa setempat, terdapat sekitar 60 bekantan di kawasan tersebut, meski jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi melalui pemantauan BKSDA.

BKSDA Kalsel menyatakan akan memantau keberadaan satwa yang masih berada di lokasi. Jika ditemukan satwa yang sakit atau membutuhkan pertolongan, akan dilakukan evakuasi. BKSDA juga akan mengkaji kelayakan habitat dan kemungkinan translokasi apabila diperlukan.

Usman kembali mendesak pemerintah untuk memastikan seluruh titik api di wilayah terdampak dapat dipadamkan secara menyeluruh.

“Karhutla harus segera dipadamkan secara total. Jangan sampai kebakaran terus berlangsung dan asap semakin membahayakan masyarakat maupun satwa liar. Perlindungan terhadap ekosistem harus menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla,” tegasnya. ***

wwwwww