Efek Domino Konflik Selat Hormuz, Mampukah Bank Indonesia Jinakkan Rupiah?
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Bara konflik yang menyelimuti kawasan Timur Tengah kembali mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan domestik. Rentetan serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi dan kapal-kapal di Teluk memicu kekhawatiran krisis pasokan global yang berimbas langsung pada stabilitas nilai tukar rupiah.
Merespons ketegangan geopolitik tersebut, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan bahwa penutupan pipa East-West Arab Saudi dan mandeknya negosiasi pembukaan Selat Hormuz menjadi biang keladi naiknya tekanan inflasi global. Dampaknya, harga minyak mentah Brent yang sempat mereda dengan penurunan 2,81 persen ke US$ 104,6 per barel pada Jumat (11/9/2026), langsung melonjak 3 persen menuju US$ 107 per barel pada Senin pagi. Kenaikan harga emas hitam ini sudah mencapai 71,91 persen terhitung sejak awal tahun.
"Penutupan pipa East-West Arab Saudi dan penundaan pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan energi berkepanjangan dan memicu kembali tekanan inflasi global," ungkapnya, Senin (14/9/2026).
Efek domino dari lonjakan minyak dan naiknya yield US Treasury yang mengintai level 5 persen ini membuat pergerakan mata uang domestik tertatih-tatih. Bank Mandiri memprediksi rupiah hanya mampu bernapas pada kisaran Rp17.590 hingga Rp17.685 per dolar AS di awal pekan. Tekanan ini juga terlihat pada pasar surat berharga, di mana yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 4,2 basis point menjadi 7,15 persen dan tenor 5 tahun bertambah 9,2 basis point ke posisi 7,03 persen.
Namun, kepercayaan investor asing tampaknya belum goyah. Data menunjukkan adanya aliran dana masuk bersih sebesar Rp10,1 triliun ke instrumen obligasi pemerintah pada Kamis (10/9/2026). Hal ini mengakumulasi net inflow bulanan (mtd) sebesar Rp11,7 triliun dan tahunan (ytd) mencapai Rp40,8 triliun.
Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengingatkan otoritas agar tidak lengah menghadapi mahalnya harga modal global akibat kombinasi harga minyak tinggi dan manuver hawkish The Fed. Ia menekankan perlunya ruang koreksi bagi yield SUN 10 tahun menuju angka 7,3 hingga 7,5 persen demi menemukan titik keseimbangan pasar (market-clearing yield).
Langkah tersebut, dipadukan dengan optimalisasi instrumen pengelolaan likuiditas, DNDF, transaksi mata uang lokal (LCT), dan intervensi spot oleh Bank Indonesia, dinilai cukup ampuh menahan kejatuhan rupiah. Fakhrul memproyeksikan tekanan maksimal terhadap rupiah hanya akan membawanya ke level Rp17.800 per dolar AS.
"Yang perlu mulai kita antisipasi sekarang adalah kemungkinan bunga global justru harus naik lagi. Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets akan datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga melalui repricing seluruh harga modal global," tukasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tempo.co |
| Kategori | : | Pasar & Niaga, Keuangan |








