Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
8 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Opini

Susuri Selat Sunda 140 Kilometer, Tim SAR Temukan Benda Mengapung Milik Rombongan Jurnalis?

Susuri Selat Sunda 140 Kilometer, Tim SAR Temukan Benda Mengapung Milik Rombongan Jurnalis?
Pencarian hari keempat jurnalis hilang kontak, tim yang bergerak menuju Pulau Sertung terhalang abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: Liputan6.com/Istimewa).
Minggu, 13 September 2026 10:30 WIB

JAKARTA - Hamparan ombak di Selat Sunda menyimpan teka-teki keberadaan delapan orang yang hilang bersama speed boat Arupadatu I sejak Senin (7/9/2026). Operasi pencarian rombongan yang terdiri dari nakhoda, Anak Buah Kapal (ABK), pemandu, serta lima pewarta ini mulai menunjukkan secercah petunjuk setelah tim menyisir perairan hingga mengandalkan pelacakan digital.

Tragedi ini bermula ketika kapal cepat tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang pada pukul 14.00 WIB. Tujuan mereka adalah mendokumentasikan aktivitas vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau. Lima jurnalis di dalam manifes tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu).

Jejak Telekomunikasi di Gugusan Kepulauan

Upaya mengurai misteri hilangnya kapal ini mendapat dukungan teknis dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Berdasarkan pemantauan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio, perangkat seluler dari rombongan tersebut meninggalkan jejak terakhir di sekitar perairan sebelum lenyap.

"Kami telah merangkul tiga operator seluler demi melacak posisi pemancar di sekitar Selat Sunda, mencakup area wilayah Banten dan Lampung," ungkap Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria di Posko SAR Dermaga Pantai Marina, Pandeglang, Banten, Sabtu (12/9/2026).

Pria tersebut memastikan bahwa data koordinat telah diserahkan sepenuhnya sebagai acuan pergerakan armada pencari

"Rekam kontak terakhir berada di Pulau Sebesi. Sinyal pemancar tertangkap di kawasan tersebut dan langsung kami teruskan ke Tim SAR sebagai data krusial operasi," paparnya.

Pantauan Udara Terhadang Kondisi Alam

Penyisiran tidak hanya mengandalkan jalur laut. Satu unit helikopter dikerahkan untuk memindai area dari udara. Sayangnya, jarak pandang pilot sangat terbatas karena tertutup kabut tebal hingga menyisakan ruang pandang sejauh 1,5 kilometer saja.

"Helikopter sudah mengudara, namun terhalang kabut yang menurunkan jarak pandang. Meski begitu, penyisiran rute yang diduga dilintasi kapal tetap berjalan dan masyarakat kami imbau hanya merujuk pada informasi resmi otoritas terkait," sebutnya.

Penemuan Benda Mencurigakan di Perairan Carita

Di tengah operasi, kru KN SAR Tetuka melaporkan adanya objek yang terombang-ambing di sektor X sisi utara Pantai Carita pada Sabtu malam. Benda-benda tersebut langsung diangkat ke atas geladak untuk diidentifikasi.

"Ditemukan dua unit jaket pelampung berwarna oranye, sebuah helm proyek warna merah, serta jeriken BBM warna biru," urai Kasubdit Patroli Airud Polda Banten, AKBP Lis Handaya.

Meski temuan ini memicu tanda tanya, aparat kepolisian belum berani menyimpulkan apakah barang-barang tersebut berasal dari kapal yang tumpangi para jurnalis.

"Temuan ini harus diklarifikasi terlebih dahulu kepada pemilik untuk memastikan apakah barang tersebut memang perlengkapan dari Kapal Arupadatu I," tegasnya.

Perluasan Armada dan Pelibatan Keluarga

Kegelisahan juga dirasakan oleh kerabat korban yang memutuskan ikut turun langsung membelah lautan. Keluarga dari Donal Husni dan Yudhistira turut naik ke atas Kapal Polisi (KP) Sanjaya. Menggunakan teropong, mereka memantau area perairan di sekitar Pulau Sertung.

"Kami memantau sekaligus mencari keberadaan korban, menempuh perjalanan sejauh 80 mil atau sekitar 140 kilometer selama delapan jam. Hasil hari ini masih nihil," jelas Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki.

Untuk memaksimalkan peluang, otoritas setempat memutuskan menambah kekuatan armada dan memperluas zona pencarian di hari kelima operasi.

"Pada hari keempat kami membagi 12 kapal di enam sektor. Hari ini kekuatan ditambah menjadi 14 armada kapal yang disebar untuk menyisir tujuh sektor perairan," urainya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Opini
wwwwww