Tolak Tudingan Ancam Benua Biru, Moskow Nilai Barat Sengaja Manfaatkan Ukraina
![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin. |
ISTANBUL - Perang narasi dan diplomasi antara petinggi negara Rusia dan Ukraina terus bergulir tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda. Menyikapi manuver taktis di lapangan pada Jumat (11/9/2026), Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy secara terang-terangan mendesak pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah kendali Donald Trump untuk mengambil tindakan hukum guna memotong urat nadi pendanaan perang Moskow.
Permintaan Intervensi Amerika Serikat
Melalui pernyataan tertulis di platform X, Zelenskyy meminta instrumen politik di Washington, khususnya Kongres AS, untuk segera mengetok palu pengesahan undang-undang sanksi. Ia menyebut regulasi yang sebelumnya didorong oleh mendiang Senator Lindsey Graham tersebut sebagai instrumen mutlak yang harus diterapkan saat ini.
"Ini adalah sarana yang dimiliki Amerika Serikat untuk melumpuhkan kemampuan Rusia dalam membiayai perang melawan Ukraina setiap harinya," bebernya.
Bersamaan dengan tuntutan sanksi, ia mengusulkan sebuah langkah diplomasi berupa pertemuan trilateral. Pertemuan yang melibatkan AS, Rusia, dan Ukraina ini diharapkan mampu melahirkan kesepakatan gencatan senjata di sektor infrastruktur energi, pelepasan blokade Laut Hitam, hingga realisasi pertukaran warga sipil serta anak-anak yang ditahan di wilayah Rusia.
Ancaman Retaliasi Musim Dingin
Zelenskyy memberikan batas toleransi yang ketat terkait keamanan fasilitas sipil menjelang akhir tahun. Ia menjanjikan operasi balasan apabila Rusia mematikan sistem kelistrikan Ukraina selama musim dingin, sembari mengingatkan dunia bahwa terhentinya jalur komoditas pertanian di Laut Hitam akan menimbulkan efek domino kelangkaan pasokan global layaknya krisis di Selat Hormuz.
Penolakan Narasi Ancaman dari Moskow
Berbanding terbalik dengan tuntutan dari Kyiv, Presiden Rusia, Vladimir Putin yang berbicara kepada kantor berita Tass justru menempatkan negaranya sebagai pihak yang sedang berupaya dihancurkan oleh negara-negara Barat.
Putin menguraikan bahwa rencana negara Eropa untuk mendaratkan pasukan di wilayah Ukraina adalah sebuah garis merah yang setara dengan deklarasi perang. Ia melihat seluruh rentetan kejadian ini, mulai dari munculnya gerakan separatis di Kaukasus hingga berdirinya pemerintahan di Ukraina yang ia labeli sebagai neo-Nazi, adalah skenario Barat untuk menghabisi Rusia.
Ia juga mengkritik kebijakan elite politik Eropa yang secara terus-menerus memproduksi narasi ketakutan di tengah masyarakat mereka sendiri.
"Elite Eropa telah menakut-nakuti rakyat mereka dengan ancaman imajiner dari Rusia. Kami tidak mengancam, ataupun berniat mengancam, negara-negara Eropa," kilahnya.
Alih-alih memberikan ancaman militer, Putin justru mengingatkan bahwa kesalahan kalkulasi negara-negara Eropa dalam merancang kebijakan pasokan energi mereka sendiri yang pada akhirnya akan membuat rakyat harus menanggung beban kenaikan harga gas di pasaran.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Kuliner |








