Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
7 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Gelanggang

Peneliti UNJ Kembangkan Instrumen Temukan Talenta Masa Depan Pencak Silat

Peneliti UNJ Kembangkan Instrumen Temukan Talenta Masa Depan Pencak Silat
Atllet pencak silat usia dini. (Ist)
Jum'at, 11 September 2026 19:14 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Menjadi juara pada usia muda belum tentu menjadi jaminan seseorang akan menjadi atlet elite di masa depan. Sebaliknya, anak yang belum menonjol dalam kompetisi hari ini bisa saja menyimpan potensi besar yang baru berkembang beberapa tahun kemudian.

Persoalan tersebut menjadi perhatian tim peneliti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mengembangkan instrumen identifikasi bakat pencak silat untuk atlet usia 12–15 tahun. Penelitian ini berupaya mengubah cara pandang identifikasi bakat olahraga dari sekadar mencari atlet dengan performa terbaik saat ini menjadi upaya mengenali potensi perkembangan jangka panjang.

Penelitian berjudul Identification of Indonesian Pencak Silat Athletes' Talent Based on Psychometrics and Sport Science: Adaptation of the Talent Identification Questionnaire for Ages 12–15 Years tersebut merupakan hibah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Jakarta melalui skema Riset Kolaborasi LPTK Indonesia (RKLI). Penelitian dipimpin Dr. Juriana, M.Si., Psikolog, dengan anggota dosen Dr. Hendro Wardoyo, M.Pd. dan Dr. Lussy Dwiutami Wahyuni, M.Pd. Penelitian juga melibatkan anggota mahasiswa M. Irfan Mulana dan Iswandi Ramadhan, serta mitra Kurniati Rahayuni, Ph.D., Psikolog, dari Universitas Negeri Malang.

“Identifikasi bakat tidak seharusnya hanya melihat siapa yang paling berprestasi pada usia muda. Yang lebih penting adalah mengenali siapa yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi atlet berprestasi di masa depan. Karena itu, kita perlu melihat atlet secara utuh, bukan hanya dari kemampuan fisiknya,” ujar Dr. Juriana selaku Ketua Peneliti.

Melihat Atlet secara Utuh

Tim peneliti mengadaptasi Talent Identification Questionnaire (TIQ) ke dalam konteks budaya Indonesia. Instrumen tersebut dikembangkan untuk melihat keberbakatan olahraga melalui lima dimensi, yakni antropometri, fisiologis, keterampilan teknis, faktor sosiologis, dan karakteristik psikologis.

Pendekatan multidimensional ini dinilai penting karena pencak silat merupakan cabang olahraga yang menuntut perpaduan berbagai kemampuan. Selain kekuatan dan kondisi fisik, atlet membutuhkan keterampilan teknik, kemampuan mengambil keputusan, regulasi emosi, keberanian, kemampuan beradaptasi, serta dukungan lingkungan sosial. “Seorang anak mungkin belum memiliki performa terbaik secara fisik pada usia tertentu, tetapi memiliki karakter psikologis, kemampuan belajar, motivasi, atau kapasitas adaptasi yang sangat baik. Potensi seperti inilah yang jangan sampai terlewat dalam proses identifikasi bakat,” kata Juriana.

Penelitian melibatkan 409 atlet pencak silat usia 12–15 tahun pada tahap field testing, setelah sebelumnya dilakukan uji coba awal terhadap 118 atlet. Instrumen yang dikembangkan terdiri atas 35 butir dengan skala lima tingkat.  Proses adaptasi dilakukan secara sistematis melalui penerjemahan, sintesis hasil terjemahan, back translation, penilaian panel ahli, uji keterbacaan, uji coba awal, hingga pengujian psikometrik.

WartaPKU.com Atlet usia dini. (Ist)
Atlet usia dini. (Ist)

Hasil Pengujian Tunjukkan Kualitas Tinggi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa TIQ versi Indonesia memiliki kualitas psikometrik yang sangat baik. Validitas isi instrumen memperoleh nilai Aiken’s V sebesar 0,85. Sementara itu, hasil analisis menunjukkan Person Reliability sebesar 0,94, Item Reliability sebesar 0,99, dan Cronbach’s Alpha sebesar 0,95. Temuan tersebut menunjukkan konsistensi dan kualitas pengukuran yang sangat tinggi.  Analisis Confirmatory Factor Analysis juga menunjukkan bahwa struktur lima dimensi yang digunakan mampu merepresentasikan konstruk identifikasi bakat secara memadai. Sebagian besar indikator memiliki factor loading di atas 0,50, bahkan sejumlah indikator berada di atas 0,70.

Penelitian ini juga menggunakan Rasch Measurement Theory untuk mengevaluasi karakteristik setiap butir secara lebih mendalam. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat kualitas item, kemampuan responden, fungsi kategori respons, serta potensi bias pada butir instrumen. “Kami ingin agar proses identifikasi bakat semakin berbasis data dan bukti ilmiah. Pelatih tetap memiliki peran yang sangat penting karena pengalaman dan observasi lapangan tidak dapat digantikan. Instrumen ini justru diharapkan menjadi alat bantu agar keputusan pembinaan menjadi lebih objektif dan komprehensif,” ujar Juriana.

Dukung Pembinaan Atlet Jangka Panjang

Hasil penelitian ini memiliki relevansi dengan arah pembangunan olahraga nasional. Dalam kerangka Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), pembinaan olahraga diarahkan agar berlangsung secara sistematis, terintegrasi, berkelanjutan, serta memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga. Instrumen TIQ versi Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu alat pendukung bagi pelatih, klub, sekolah olahraga, dan organisasi olahraga dalam memperoleh gambaran potensi atlet muda secara lebih objektif.

Bagi pencak silat—yang tidak hanya merupakan cabang olahraga tetapi juga bagian dari warisan budaya Indonesia—upaya menemukan dan mengembangkan talenta sejak usia muda memiliki arti strategis. Namun, tim peneliti menegaskan bahwa instrumen tersebut bukan alat untuk meramalkan secara mutlak siapa yang akan menjadi juara. Penelitian saat ini berfokus pada adaptasi dan validasi psikometrik, sementara kemampuan instrumen dalam memprediksi prestasi atlet pada masa mendatang masih perlu diuji melalui penelitian longitudinal.

“Kami berharap penelitian ini menjadi langkah awal menuju sistem identifikasi bakat olahraga Indonesia yang lebih ilmiah. Anak-anak yang memiliki potensi harus diberi kesempatan untuk berkembang sesuai karakteristiknya. Jangan sampai kita kehilangan calon atlet hebat hanya karena kita menggunakan ukuran keberhasilan yang terlalu sempit pada usia muda,” tutur Juriana.

Pada akhirnya, pencarian talenta olahraga bukan semata-mata tentang menemukan siapa yang menang hari ini. Lebih dari itu, pencarian bakat adalah tentang menemukan siapa yang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi juara di masa depan, kemudian memastikan mereka mendapatkan lingkungan, latihan, pendampingan, dan kesempatan yang tepat untuk berkembang. Di tengah ribuan anak yang sedang berlatih pencak silat di berbagai penjuru Indonesia, boleh jadi ada calon juara dunia yang belum terlihat hari ini. Tugas dunia olahraga adalah memastikan potensi itu tidak terlewat. ***

wwwwww