Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
10 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Opini

Namanya Masuk Buku 'Islam Ala Prabowo', Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Pertanyakan Transparansi

Namanya Masuk Buku Islam Ala Prabowo, Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Pertanyakan Transparansi
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar. (Foto: YouTube Teras Gubuk)
Jum'at, 11 September 2026 14:30 WIB

JAKARTA - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar memberikan tanggapan resmi mengenai namanya yang tercantum dalam buku berjudul 'Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam'. Tokoh yang akrab disapa Gus Kautsar ini mengaku tidak pernah mengetahui obrolannya akan dirangkum menjadi sebuah karya cetak.

Penjelasan tersebut disampaikannya melalui saluran YouTube Teras Gubuk, Jumat (11/9/2026). Ia menekankan poin utama dari permasalahannya bukan terletak pada rasa keberatan, melainkan soal etika dan keterbukaan pihak pembuat buku.

"Kami tidak pernah tahu bahwa ini kemudian akan menjadi satu buku," terangnya.

Lebih jauh, ia mempertanyakan alasan ketiadaan komunikasi dari pihak terkait sebelum naskah itu naik cetak. Padahal, keterangan dan namanya jelas-jelas dicatut di dalam karya literasi tersebut.

"Sebetulnya bukan masalah keberatan atau tidak, satu hanya masalah transparansi. Kemudian, kalau memang kami dicantumkan di sana, kenapa sebelum diterbitkan kami tidak diberitahu?" keluhnya.

Selain soal prosedur penerbitan, Gus Kautsar turut mengkritisi pemilihan judul buku. Ia menyarankan agar narasi yang digunakan bisa lebih halus jika tujuannya ingin menjabarkan hubungan Prabowo Subianto dengan agama maupun lingkungan pesantren.

"Kalau dalam rangka menjelaskan bagaimana hubungan beliau dengan Islam, beliau dengan pesantren, harusnya judulnya enggak kayak gitu. Itu lebih soft dan itu lebih punya potensi untuk kemudian dibaca dengan baik," urainya.

Dalam pandangan keilmuannya, tidak ada kebiasaan melabeli Islam dengan nama tokoh tertentu. Ia mencontohkan nama-nama ulama besar yang tidak pernah dijadikan embel-embel rumusan agama.

"Saya ngomong begitu karena kapasitas guru-guru kami saja, kami tidak punya tuh Islam Ala Mbah Hasyim Zaelani misalnya," tegasnya.

"Enggak punya tuh. Islam Ala Mbah Ya Huda, enggak ada tuh. Atau yang mungkin kamu kenal misalnya Islam Ala Mbah Maimoen, enggak ada tuh," sambungnya.

Ia menganggap pandangan agama tidak seharusnya dikonstruksikan sebagai pendapat personal satu sosok.

"Karena kami tidak biasa bahwa ngomongkan Islam kemudian ngomongkan menurut saya, enggak ada tuh, enggak ada," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Opini
wwwwww