Redam Gejolak Selat Hormuz, Volume Perdagangan Barang Dunia Tunjukkan Tren Penguatan
![]() |
| Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (liputan6.com/angga yuniar) |
Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) merilis laporan terbaru Rabu (9/9/2026), yang kemudian disiarkan oleh Anadolu Kamis (10/9/2026). Laporan tersebut membeberkan bahwa barometer perdagangan barang secara global telah merangkak naik menyentuh level 102 pada Juli, lebih tinggi dibandingkan posisi bulan Juni yang berada di angka 101,7.
Sebagai gambaran, indikator di atas level 100 menegaskan bahwa volume perdagangan sedang melampaui tren wajar, sedangkan angka di bawah 100 menunjukkan lesunya aktivitas pasar global.
"Permintaan yang kuat terhadap komponen elektronik dan input lainnya yang terkait dengan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus mendukung perdagangan, membantu mengimbangi dampak negatif dari konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian yang terus berlanjut terkait kebijakan perdagangan," sebut laporan resmi WTO tersebut.
Secara rinci, nyaris seluruh indeks komponen pembentuk barometer bertengger kokoh di atas garis dasar. Sektor komponen elektronik memimpin lonjakan dengan skor tertinggi mencapai 104,9, yang mencerminkan besarnya dahaga global terhadap perangkat keras untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Menyusul di bawahnya, pesanan ekspor mencatat skor 103,5 yang memberikan sinyal kelancaran transaksi logistik dalam waktu dekat. Sektor angkutan udara internasional juga stabil di level 102,8, beriringan dengan komoditas bahan baku pertanian di angka 102,6 serta produk otomotif sebesar 101,5.
Dampak Konflik Tertutupi
Di tengah deretan angka positif tersebut, sektor pengiriman peti kemas menjadi satu-satunya elemen yang mencatat kinerja minor. Indeks komponen perkapalan ini tergelincir ke angka 99,6.
WTO sebelumnya sudah memetakan proyeksi volume perdagangan barang global akan mengalami eskalasi sebesar 1,9 persen sepanjang tahun 2026 berdasarkan skenario dasar. Persentase ini disimulasikan menyusut menjadi 1,4 persen jika skenario harga energi melambung akibat imbas eskalasi konflik di Timur Tengah.
Merespons dinamika tersebut, institusi ini merinci bahwa konsistensi aliran investasi di sektor AI memiliki daya ungkit untuk menyumbang tambahan 0,5 persen terhadap total laju pertumbuhan perdagangan barang.
Sementara itu, efek domino dari gangguan jalur pelayaran di perairan Selat Hormuz diperkirakan baru akan tergambar gamblang saat rekapan data perdagangan kuartal kedua resmi dirilis. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Kuliner |








