Disrupsi AI dan Lonjakan Upah Bikin Ribuan Perusahaan Jepang Ambruk
![]() |
| Ilustrasi pekerja di Jepang. (Foto: Shutterstock) |
JAKARTA - Fenomena kekurangan sumber daya manusia dan tekanan inflasi terus menggerus ketahanan dunia usaha di Jepang. Tercatat sebanyak 1.028 perusahaan menyatakan bangkrut pada Juli 2026, menjadikannya bulan kedua secara beruntun dengan jumlah kasus pailit berada di atas angka seribu.
Usaha berskala kecil menjadi kelompok yang paling terdampak, di mana hampir 80 persen dari total perusahaan yang tutup menanggung kewajiban utang di bawah 100 juta yen. Laporan Tokyo Shoko Research merinci bahwa secara keseluruhan, tingkat kebangkrutan bisnis melonjak 6,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Salah satu pemicu utamanya adalah ketidakmampuan pelaku usaha menyeimbangkan margin pendapatan dengan tuntutan kenaikan upah pekerja. Kasus pailit akibat minimnya ketersediaan tenaga kerja menyentuh rekor tertinggi dengan 63 kejadian, di mana 36 di antaranya murni karena pembengkakan biaya gaji operasional. "Kenaikan gaji tidak dapat dihindari untuk mendapatkan tenaga kerja, tapi perusahaan justru memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan gaji melampaui kemampuan finansial saat mereka tidak mampu menghasilkan pendapatan yang memadai," urai riset tersebut.
Secara akumulatif, total utang perusahaan yang tumbang meroket 41,4 persen hingga menyentuh 236,3 miliar yen atau setara Rp26,42 triliun. Firma kredit korporasi Teikoku Databank Ltd mencatat bahwa kebangkrutan terbesar tahun ini disumbang oleh Zentoshin, sebuah penyedia layanan transaksi kartu kredit di Osaka. Perusahaan tersebut kolaps dengan tanggungan kewajiban sebesar 115,16 miliar yen.
Tekanan ekonomi ini menyebar luas ke tujuh dari sepuluh sektor industri, termasuk konstruksi, retail, dan transportasi. Pelemahan yen yang mendorong fluktuasi harga bahan baku menjadi biang kerok atas 93 kasus pailit lainnya. Sektor jasa paling menderita dengan 342 kasus, disusul oleh sektor informasi dan komunikasi yang angka kebangkrutannya melesat 62,5 persen sebagai imbas meluasnya adopsi teknologi kecerdasan buatan.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kumparan.com |
| Kategori | : | Kuliner, Pasar & Niaga |








