Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
7 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Jangan Terlewat, Ini Tautan Resmi Nonton Gerhana Matahari Total 2026

Jangan Terlewat, Ini Tautan Resmi Nonton Gerhana Matahari Total 2026
Gerhana matahari total 12 Agustus 2026. Ilustrasi
Rabu, 12 Agustus 2026 15:03 WIB

JAKARTA - Peristiwa langit berupa Gerhana Matahari Total (GMT) bertepatan dengan fase Bulan Baru kembali berotasi Rabu (12/8/2026). Fenomena pergerakan sejajar antara Matahari, Bulan, dan Bumi ini menutupi pancaran cahaya matahari ke bumi secara penuh maupun sebagian.

Bagi kawasan yang dilalui bayangan inti (umbra), siang hari berubah menjadi gelap layaknya malam selama durasi gerhana. Namun, kondisi geografis Indonesia tidak memungkinkan warganya untuk mengamati peristiwa tersebut secara tatap muka dari luar ruangan.

Jadwal Berdasarkan Waktu Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa lintasan gerhana berproses saat posisi Indonesia membelakangi matahari. Proses gerhana dimulai pukul 22.34 WIB melalui fase sebagian.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu memaparkan bahwa fase total awal dimulai pada 23.57 WIB. Puncak kegelapan terjadi dini hari, yakni pukul 00.45 WIB, Kamis (13/8/2026).

"Keseluruhan proses gerhana berakhir sepenuhnya pada pukul 19.57 UT atau 02.57 WIB," tuturnya, Sabtu (8/8/2026).

Kawasan Pengamat Langsung

Absennya Indonesia dari jalur lintasan berbanding terbalik dengan negara-negara di belahan bumi utara. Wilayah tersebut berada dalam waktu siang hari sehingga memiliki jarak pandang ideal menuju matahari.

Teguh Rahayu menyebut kawasan Eropa, Rusia bagian utara, Afrika bagian barat laut, dan Amerika Utara sebagai titik utama pengamatan. Warga di kawasan tersebut menerima peringatan keras dari otoritas meteorologi untuk menggunakan kacamata khusus berfilter matahari saat mendongak ke langit.

Solusi Pemantauan Virtual

Kendati terhalang zona waktu malam, warga Indonesia difasilitasi dengan opsi pengamatan visual berbasis virtual. Instrumen daring menghilangkan kebutuhan kacamata khusus bagi warga Nusantara yang ingin melihat detik-detik piringan bulan menutupi matahari.

"Untuk masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total dapat mengikutinya melalui kanal resmi NASA," ungkapnya.

Lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut menyediakan infrastruktur siaran langsung secara gratis. Akses pengamatan bisa ditonton lewat perangkat digital pada tautan NASA Live di https://www.nasa.gov/live/. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompastv.com
Kategori:Warga Bertuah
wwwwww