Buka Akses Selat Hormuz, Trump Tunda Aksi Militer Setelah Didesak Teheran
![]() |
| Presiden amerika serikat donald trump. the new york times |
JAKARTA - Dinamika geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menangguhkan rencana serangan militer terhadap Iran. Kedua negara bersiap untuk duduk di meja perundingan pada Senin (3/8/2026).
Perubahan arah kebijakan ini didorong oleh intervensi diplomasi dari sejumlah negara kawasan. Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar turut melobi Washington agar menahan diri dari tindakan yang berpotensi memicu konflik terbuka.
Intervensi Negara Kawasan
Dalam perjalanan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Trump mengungkapkan bahwa permintaan penundaan serangan tidak hanya datang dari negara-negara sekutu, melainkan juga dari pihak Iran secara langsung.
"Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya. Mereka berkata: 'Tolong jangan lakukan itu.' Negara-negara tetangga mereka juga mengatakan hal yang sama. Kita hanya akan melihat apakah kita dapat membuat kesepakatan atau tidak," terangnya kepada awak media.
Menurutnya, negara-negara tetangga menganggap kesepakatan damai sudah hampir tercapai, terutama terkait pengamanan jalur logistik Selat Hormuz dan pencabutan status ancaman nuklir. Karena itu, pengerahan instrumen militer dinilai hanya akan merusak proses perundingan yang sedang dirajut.
Tanpa Tenggat Waktu
Berdasarkan unggahannya di platform media sosial, kesepakatan potensial yang dibidik AS mengharuskan pembukaan Selat Hormuz secara menyeluruh dan segera. Sebagai kompensasi, operasi militer AS dibatalkan dan Israel turut menyetujui komitmen serupa.
"Ayo bekerja, semuanya, dan selesaikan ini," serunya merujuk pada partisipasi Israel dan negara kawasan untuk menjaga stabilitas.
Meski ruang dialog telah dibuka pada Senin sore, pihak Washington tidak menetapkan tenggat waktu khusus bagi Iran untuk mengimplementasikan poin-poin kesepakatan ini. AS tetap mempertahankan kesiapan militernya sembari menunggu hasil konkret dari meja perundingan.
"Kita siap kapan pun kita mau," tandasnya memastikan posisi tawar Amerika Serikat tidak melemah selama masa negosiasi. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | metrotvnews.com |
| Kategori | : | Kuliner |











