Buntut Serangan Yordania, Bom 1 Ton AS Runtuhkan Rumah Warga di Pesisir Selat Hormuz
![]() |
JAKARTA - Sebuah operasi militer Amerika Serikat (AS) yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal di Pulau Qeshm, Iran, Kamis (30/7/2026). Serangan mematikan itu menewaskan empat orang yang merupakan anggota dari satu keluarga.
Tim analis independen menyimpulkan bahwa proyektil yang digunakan adalah bom konvensional Mark-84. Kesimpulan ini didapat usai membedah berbagai rekaman visual, mulai dari foto, video, hingga pencitraan satelit di lokasi kejadian. Pihak berwenang Iran melaporkan korban meninggal dunia terdiri atas seorang suami, istri, dan dua anak laki-laki mereka yang berumur dua tahun. Dua anak lainnya dilaporkan selamat setelah dievakuasi dari tumpukan material rumah.
Para analis membeberkan kepada The New York Times (NYT) bahwa ledakan besar tersebut meninggalkan jejak kawah selebar sembilan meter. Serpihan baja di sekitarnya sangat identik dengan karakteristik Mark-84, salah satu senjata berdaya ledak paling tinggi milik AS. Validasi gambar yang diperoleh di lapangan juga sinkron dengan jadwal operasi militer pasukan tersebut.
Jatuhnya amunisi besar di kawasan padat permukiman sipil Kota Qeshm, pesisir Selat Hormuz, memicu tanda tanya terkait strategi penetapan target AS. Gempuran ini diyakini merupakan rantai serangan balasan setelah Iran sebelumnya menargetkan fasilitas militer AS di Yordania.
Berbanding terbalik dengan narasi balasan tersebut, investigasi NYT justru tidak menemukan tanda-tanda adanya basis militer Iran atau korban dari pihak militer di sekitar lokasi ledakan. Tingkat kerusakan di lapangan tergolong sangat parah, dengan radius puing bangunan dan kendaraan rusak yang terlempar sejauh 60 meter dari titik pusat kawah.
Pihak Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa mereka tengah memeriksa laporan jatuhnya korban sipil dalam operasi itu. Akan tetapi, mereka enggan menjawab pertanyaan kritis seputar alasan pemilihan target, rasionalisasi pemakaian bom nyaris satu ton di permukiman, dan prosedur perlindungan warga sekitar.
"Kami mengetahui laporan tersebut dan sedang menyelidikinya," papar Juru Bicara Centcom, Tim Hawkins. Ia sekaligus membantah tudingan dengan menegaskan bahwa doktrin militer AS tidak membenarkan penyerangan terhadap penduduk sipil.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inews.id |
| Kategori | : | Kuliner |











