Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
21 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
20 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
20 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
Balai Kota
17 jam yang lalu
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
6
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
22 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Jembatan Muara Dua Runtuh: Akses Warga Terputus, Peringatan Alam yang Lama Tak Didengar

Jembatan Muara Dua Runtuh: Akses Warga Terputus, Peringatan Alam yang Lama Tak Didengar
Jembatan penghubung antar desa di Jalan Tanggamus, Kelurahan Muaradua, Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, Sumsel yang putus akibat hantaman arus Sungai Kelekar setelah banjir besar. (foto : istimewa)
Jum'at, 12 Desember 2025 17:45 WIB

PRABUMULIH – Runtuhnya Jembatan Muara Dua pada Kamis sore (11/12/2025) bukan sekadar peristiwa putusnya akses antar-desa, tetapi gambaran nyata bagaimana peringatan alam bertahun-tahun dapat terabaikan hingga akhirnya berubah menjadi bencana infrastruktur. Jembatan di Jalan Tanggamus itu patah ketika arus Sungai Kelekar menguat setelah banjir besar melanda wilayah Prabumulih Timur.

Selama bertahun-tahun, jembatan ini telah menjadi “pengungkap keadaan” setiap musim hujan: retak, bergeser, dan beberapa kali mengalami longsor. Namun, meski tanda-tanda bahaya terus muncul, jembatan hanya mendapatkan penanganan yang bersifat sementara.

Kapolres Prabumulih, AKBP Bobby Kusumawardhana, mengakui riwayat kerusakan itu sudah lama terjadi.

“Ada riwayat sering longsor atau ambruk karena kontur tanahnya lembut dan terbawa arus air,” ujarnya.

Yang membuat insiden ini menyedot perhatian publik adalah detik-detik runtuhnya jembatan ketika seorang petugas Bhabinkamtibmas, Aipda Arfan, tengah melakukan pengecekan debit air di atasnya. Struktur jembatan mulai bergeser, dan dalam hitungan detik, patah total. Arfan selamat setelah melompat keluar sebelum badan jembatan terjun ke sungai.

Pasca kejadian, polisi langsung menutup total akses dan mengalihkan arus kendaraan. Warga yang biasa melintasi jembatan itu kini harus menempuh rute panjang melalui Jalan Lingkar Timur atau Bukit Lebar.

“Saat ini tidak bisa dilewati kendaraan. Kami sudah pasang rambu dan melakukan pengalihan arus,” tegas Bobby.

Meski tidak ada korban jiwa, warga mengaku khawatir insiden serupa bisa terjadi di titik lain sepanjang bantaran Sungai Kelekar, mengingat curah hujan masih tinggi dan banjir kiriman masih mungkin datang. Kepolisian pun mengeluarkan imbauan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam beraktivitas di dekat daerah rawan.

“Kami mengajak warga untuk selalu waspada, terutama pada situasi hujan intens,” tambahnya.

Ambruknya Jembatan Muara Dua kini memicu kembali pembicaraan tentang perlunya evaluasi total infrastruktur yang berdiri di kawasan rawan erosi. Bagi warga, peristiwa ini bukan sekadar ambruknya satu jembatan—melainkan runtuhnya rasa aman yang selama ini terbangun tipis di atas fondasi yang rapuh. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Kampus, Warga Bertuah, Lingkungan
wwwwww