Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
2
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
10 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Whoosh Boleh Dibanggakan, Tapi Transparansi Harus Ditegakkan

Whoosh Boleh Dibanggakan, Tapi Transparansi Harus Ditegakkan
Selasa, 28 Oktober 2025 12:49 WIB
JAKARTA – Politikus Partai Demokrat, Andi Arief, menilai proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) merupakan langkah maju dalam pembangunan transportasi modern Indonesia. Namun di balik kebanggaan nasional itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak menutup mata terhadap isu dugaan korupsi dan pembengkakan anggaran yang mulai menjadi sorotan publik.

“Kereta cepat sudah jadi kenyataan. Dari Jakarta menuju Bandung kini tidak butuh waktu lama, dan ini harus terus berlanjut,” ujar Andi lewat akun X miliknya, Selasa (28/10/2025).

Namun, Andi menegaskan bahwa keberhasilan infrastruktur tidak boleh menghapus kewajiban moral untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran. “Jangan abaikan kecurigaan adanya korupsi atau mark up jika memang ada indikasi. Pembangunan besar harus tetap diawasi,” tulisnya.

Pernyataan Andi muncul di tengah ramainya isu dugaan ketidakwajaran biaya proyek Whoosh. Sejumlah pihak menyoroti perbedaan mencolok antara biaya pembangunan per kilometer kereta cepat di Indonesia yang mencapai 52 juta dolar AS, sementara di Tiongkok hanya berkisar 17–18 juta dolar AS. Perbandingan itu menimbulkan pertanyaan publik mengenai efisiensi dan transparansi proyek strategis nasional tersebut.

Andi Arief menilai, proyek sebesar ini memang layak diapresiasi, namun juga harus dijaga agar tidak menjadi ladang korupsi baru. “Kita harus bangga punya kereta cepat, tapi kebanggaan itu harus disertai kejujuran dan tanggung jawab dalam pengelolaan anggaran,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran lembaga audit dan penegak hukum dalam menjaga integritas pembangunan. Menurutnya, pemerintah harus membuka ruang bagi pemeriksaan menyeluruh dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan lembaga pengawasan lainnya. “Kalau semua terbuka, rakyat tidak akan curiga. Tapi kalau ditutup-tutupi, kepercayaan publik bisa hilang,” katanya.

Andi menilai, proyek Whoosh seharusnya menjadi simbol keberanian Indonesia membangun, bukan simbol penyimpangan. “Keberhasilan infrastruktur bukan hanya tentang teknologi, tapi tentang integritas. Jangan sampai proyek sebesar ini justru menjadi catatan hitam di masa depan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kritik publik terhadap proyek besar seperti kereta cepat seharusnya dipandang positif, bukan dianggap penghambat pembangunan. “Kritik itu tanda perhatian rakyat. Kalau pemerintah bisa menjawab dengan transparansi, maka kepercayaan publik akan semakin kuat,” ujarnya.

Andi juga mengingatkan, keberlanjutan pembangunan tidak hanya bergantung pada kecepatan proyek, tapi juga pada kejujuran dan keadilan dalam pelaksanaannya. “Kita ingin Indonesia maju, tapi kemajuan itu harus dibangun di atas kepercayaan, bukan kecurigaan,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Kabar Bertuah, Cendekia, Balai Kota
wwwwww