Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
15 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
19 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
15 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Fenomena Alam di Danau Toba, Ribuan Ikan Mati Diduga Akibat Krisis Oksigen dan Ledakan Gas

Fenomena Alam di Danau Toba, Ribuan Ikan Mati Diduga Akibat Krisis Oksigen dan Ledakan Gas
Selasa, 29 Juli 2025 20:08 WIB

SAMOSIR – Ribuan ikan mendadak mengambang mati di permukaan Danau Toba. Air yang biasanya jernih berubah keruh, memunculkan kekhawatiran dan spekulasi luas di media sosial. Banyak yang menyangka peristiwa ini akibat pencemaran atau limbah. Namun, penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mengarah pada proses alamiah yang jarang diketahui publik.

Peneliti BRIN dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Dr. Ir. Lukman, M.Si., menyebutkan bahwa peristiwa ini kemungkinan besar disebabkan oleh fenomena pembalikan massa air (*turnover*), yakni pergerakan air dari dasar ke permukaan yang membawa serta gas-gas beracun.

“Gas seperti hidrogen sulfida, metana, dan karbon dioksida bisa ikut naik ke permukaan saat terjadi *turnover*. Ini yang menyebabkan air keruh sekaligus membuat ikan kehabisan oksigen dan mati,” ujarnya, Selasa (29/7/2025). 

Peristiwa ini terjadi di wilayah Pangururan, yang merupakan perairan tertutup dengan kedalaman sekitar 50 meter. Karena tidak ada banjir atau aliran sungai keruh, air keruh diyakini berasal dari bawah danau. Bahan organik seperti sisa pakan ikan dan kotoran yang menumpuk di dasar danau juga berperan besar dalam menciptakan kondisi anoksik (tanpa oksigen).

Ketika gas beracun ikut naik ke permukaan, ikan-ikan yang berada di karamba menjadi korban karena tidak dapat bergerak menjauh. Akibatnya, kematian massal pun terjadi.

“Fenomena ini tidak bisa disepelekan. Selain menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya ikan, juga berisiko merusak keseimbangan ekosistem danau secara keseluruhan,” jelas Lukman.

Ia juga menekankan perlunya regulasi tegas terkait penggunaan danau sebagai area budidaya. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain pembatasan jumlah karamba, zonasi perairan berdasarkan daya dukung ekologis, serta penerapan teknologi budidaya yang ramah lingkungan.

“Jika tidak dikendalikan, kondisi dasar danau akan terus memburuk dan menimbulkan krisis ekologis berkepanjangan,” ujarnya.

Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa pengelolaan Danau Toba harus mengutamakan keberlanjutan. Dalam upaya menjadikannya destinasi pariwisata unggulan nasional, aspek lingkungan tak boleh diabaikan. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Balai Kota, Lingkungan
wwwwww