Risiko Penerbangan Meningkat, AS Rilis Imbauan Perjalanan ke Timur Tengah
![]() |
| Presiden AS Donald Trump. |
JAKARTA - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) merilis peringatan perjalanan tingkat tinggi bagi warganya yang berencana melintasi atau mengunjungi kawasan Timur Tengah. Keputusan ini diambil menyusul indikasi memburuknya konflik bersenjata dengan Iran yang dapat bereskalasi dalam waktu singkat.
Melansir laporan CNBC Internasional, Senin (21/9/2026), otoritas AS menyampaikan peringatan tersebut melalui unggahan di platform X, Sabtu malam waktu setempat. Warga negara yang tengah berada di kawasan itu diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pembatalan penerbangan secara mendadak, penutupan ruang udara, serta berbagai gangguan mobilitas lainnya.
"Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat. Warga Amerika yang berada di luar Timur Tengah harus mempertimbangkan dengan serius rencana perjalanan ke atau melalui kawasan tersebut," terang Departemen Luar Negeri AS dalam unggahan resminya.
Rentetan Serangan Udara di Riyadh
Peringatan ini menyusul klaim kelompok pemberontak Houthi asal Yaman yang menyatakan telah menyerang sejumlah titik sensitif di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan drone, Sabtu. Rentetan serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam usai kepulan asap tebal dan kobaran api terlihat di sekitar fasilitas bandara utama Riyadh, meski otoritas setempat belum merilis konfirmasi resmi terkait pemicu kebakaran itu.
Merespons insiden ini, Presiden AS, Donald Trump menyebutkan dirinya rutin menjalin komunikasi dengan kelompok Houthi yang mendapat sokongan dari Iran tersebut. Dalam wawancaranya bersama Fox News, Minggu, Trump mengklaim Houthi telah sepakat untuk tidak menjadikan Amerika Serikat sebagai target serangan.
Lebih lanjut, ia menuturkan sedang berada pada fase penentuan sikap terkait perang dengan Iran. Trump memaparkan bahwa opsi untuk menghancurkan negara tersebut masih dipertimbangkan, bergantung pada manuver Teheran ke depannya. Terkait pernyataan ini, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar balasan atas permintaan konfirmasi.
Pekan lalu, pemerintahan Trump juga mengambil langkah penguatan bagi Riyadh dengan menyetujui rencana penjualan sekitar 50 unit jet tempur F-35 ke Arab Saudi, yang nilai potensialnya menembus angka US$24,3 miliar.
Perluasan Konflik ke Jalur Strategis
Kedutaan Besar AS di berbagai negara Timur Tengah turut mengeluarkan peringatan keamanan khusus akibat lonjakan ketegangan dan potensi eskalasi yang tak tertebak. Kekhawatiran ini mencuat setelah kelompok Houthi melancarkan operasi darat kilat di sekitar Selat Bab el-Mandeb—jalur vital lalu lintas minyak di pintu masuk Laut Merah—yang berujung pada direbutnya wilayah Mokha beserta sejumlah pulau di sekitarnya.
Ketegangan maritim ini semakin diperparah oleh sikap Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan lewat unggahan Telegram, Minggu, bahwa jalur pelayaran utama di Selat Hormuz tidak akan beroperasi sampai seluruh tuntutan negara mereka dipenuhi. Imbas dari tertutupnya rute pasokan energi antara Iran dan Oman ini, harga patokan minyak mentah Brent di pasar internasional tercatat melambung hingga 72 persen sejak awal 2026.
Negosiasi Melalui Pihak Ketiga
Mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr pada bulan lalu telah membeberkan syarat pembukaan selat tersebut. Syarat itu mencakup kewajiban AS mencabut sanksi dan blokade laut, menarik mundur pasukan militer dari kawasan, membayarkan ganti rugi perang, serta melepaskan seluruh aset Iran yang dibekukan. Laporan media menyebutkan dewan itu juga menuntut Washington menghentikan ancaman terhadap Teheran sekaligus menyetop serangan ke negara-negara sekutu Iran.
Di ranah diplomatik, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei berbicara kepada MS NOW, Sabtu, membenarkan adanya proses perundingan. Ia menyebut syarat-syarat tersebut telah dikirimkan ke AS melalui mediator dari Pakistan dan Qatar.
"Kami masih berhubungan dengan mediator dari Qatar. Mereka telah menyampaikan kepada Washington persyaratan kami untuk menghentikan perang dan kami kini menunggu respons Presiden Trump terhadap persyaratan tersebut. Persyaratan kami adalah perang dihentikan di semua front, aset Iran yang dibekukan dilepaskan, serta blokade laut dicabut," rincinya.
Meski tensi terus meningkat, Trump pada Rabu sempat melontarkan pernyataan bahwa perang dengan Iran yang telah berjalan hampir tujuh bulan ini berpeluang segera berakhir. Namun di sisi lain, angkatan bersenjata Iran baru saja menyebarkan peringatan melalui media sosial kepada negara-negara tetangganya. Mereka menegaskan bahwa keberpihakan kepada AS akan memicu serangan balasan dari Teheran, menyusul adanya informasi intelijen yang menyebut Washington tengah menyiapkan kembali operasi militer terhadap Iran.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | viva.co.id |
| Kategori | : | Kuliner |








