Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
7 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Fasilitas Minyak Diserang, Kenaikan Harga Energi Tekan Pergerakan Emas Global

Fasilitas Minyak Diserang, Kenaikan Harga Energi Tekan Pergerakan Emas Global
Ilustrasi, emas batangan. (foto: sempsajp.com)
Selasa, 15 September 2026 08:53 WIB

JAKARTA - Kenaikan harga minyak global kembali memengaruhi pergerakan harga emas dunia hingga merosot ke level terendah dalam lebih dari satu bulan pada transaksi perdagangan Senin waktu setempat. Penurunan aset ini juga sejalan dengan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang tampil lebih kuat dari perkiraan, memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan ini.

Tekanan tersebut diawali oleh harga minyak yang terkerek naik sekitar empat persen pada Senin pagi akibat adanya serangan baru yang menyasar infrastruktur energi dan sipil di Arab Saudi. Penutupan jalur pipa minyak utama milik Arab Saudi lantas dilakukan, sementara serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.

Diplomasi yang Tertunda dan Arah Suku Bunga

Dinamika konflik tersebut membawa imbas pada diplomasi Timur Tengah yang kini menghadapi ketidakpastian, memaksa agenda pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk lainnya ditunda.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff merespons situasi ini dengan menjabarkan, "Harga minyak mentah hari ini melonjak tajam, yang mendorong ekspektasi inflasi dan menunjukkan bank sentral utama dunia harus memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Kondisi itu berdampak negatif bagi logam mulia."

Sinyal pengetatan ini bertepatan dengan rencana Bank Sentral Jepang yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga mereka pada hari Jumat, menimbang kenaikan harga energi dan adanya tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Survei Pasar Terhadap Kebijakan The Fed

Ekspektasi pengetatan juga tertuju pada kebijakan moneter AS, didorong rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang meningkat 0,4 persen bulan lalu. Angka yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat sebelumnya ini tercatat lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan Juli yang hanya naik 0,1 persen.

Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga mencapai 93 persen pada pertemuan kebijakan pekan ini. Temuan ini diperkuat survei terhadap para ekonom oleh Reuters yang memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu, ditambah proyeksi setidaknya satu tambahan kenaikan hingga akhir Maret.

Tingkat suku bunga yang tinggi menekan permintaan emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Harga emas makin tertekan menyusul penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam dua pekan, sehingga emas dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Menilik pada data Yahoo Finance tertanggal Selasa (15/9/2026), tekanan tersebut wujud dalam turunnya harga emas spot sebesar 0,8 persen ke level USD4.312,59 per ons pada pukul 13.30 EDT atau 17.30 GMT. Angka ini sempat menyentuh rekor terendah sejak 7 Agustus. Penurunan 1,3 persen juga dirasakan pada transaksi kontrak berjangka emas AS yang berada di posisi USD4.351,90 per ons.

Secara paralel, pelemahan harga berimbas di pasar logam mulia lainnya. Paladium turun sebesar 0,7 persen menjadi USD1.290,41 per ons, sementara perak spot susut 1,2 persen menjadi USD63,71 per ons. Harga platinum juga tercatat melemah 1,6 persen menuju USD1.768,17 per ons. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Pasar & Niaga
wwwwww