Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
Hukum
16 jam yang lalu
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
2
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Parlemen
19 jam yang lalu
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Pasar Pantau Arah Suku Bunga BOJ dan The Fed, Rupiah Melemah Tipis di Level 17.645

Pasar Pantau Arah Suku Bunga BOJ dan The Fed, Rupiah Melemah Tipis di Level 17.645
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta. (kapanlagi.com/budy santoso)
Selasa, 08 September 2026 12:49 WIB
JAKARTA – Dinamika kebijakan moneter bank sentral global menjadi sorotan utama pasar valuta asing pekan ini. Ekspektasi terhadap langkah Bank of Japan (BOJ) dan Federal Reserve (The Fed) membuat pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) melandai, meskipun nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis ke 17.645 per dolar AS, Selasa (8/9/2026).

Posisi pembukaan rupiah tercatat turun tipis 5 poin atau 0,03 persen dari perdagangan hari sebelumnya yang bertengger di level 17.640. Kendati demikian, Analis Bank Woori Saudara Rully Nova meyakini koreksi ini hanya bersifat sementara sebelum rupiah menemukan momentum penguatannya.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis dipengaruhi oleh menguatnya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang seiring melandainya index dollar," ucapnya.

Arah Berlawanan BOJ dan The Fed

Faktor penentu utama meredupnya kekuatan dolar AS adalah perbedaan ekspektasi pasar terhadap kebijakan di Jepang dan AS. Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan kesiapan lembaganya untuk segera menaikkan suku bunga. Hal ini langsung direspons pasar valas dengan memborong yen hingga nilainya menguat ke kisaran 155 per dolar AS.

Di waktu yang sama, inflasi AS yang terus melandai menguatkan spekulasi bahwa The Fed tidak akan lagi menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Perbedaan kebijakan ini diyakini akan mempersempit selisih imbal hasil, yang pada akhirnya membuat aset dalam denominasi dolar AS kurang diminati dan memberi ruang apresiasi bagi mata uang negara berkembang.

Tantangan dari Kenaikan Impor

Walaupun mendapat sokongan dari sentimen pelemahan dolar secara global, langkah rupiah tertahan oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri. Rully Nova menyebut ada kekhawatiran terkait kesehatan neraca perdagangan akibat meroketnya nilai impor.

"Harga minyak Brent tembus USD 98 per barel dan USD WTI 93 per barel. Peningkatan permintaan dolar terbesar berasal dari impor yang naik 27 persen secara tahunan," terangnya.

Korporasi memerlukan likuiditas dolar AS dalam jumlah besar untuk melunasi kewajiban impor energi tersebut. Pertarungan antara sentimen global yang mendukung pelemahan dolar dan tingginya permintaan valas domestik ini diprediksi akan membuat pergerakan rupiah cukup fluktuatif sepanjang hari. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Balai Kota, Keuangan
wwwwww