Netanyahu Tolak Usulan AS, Serangan Udara Renggut Enam Nyawa
![]() |
GAZA - Serangan udara mematikan kembali merobek kawasan publik di pesisir Kota Gaza. Pesawat tempur Israel menargetkan sebuah kafe yang berlokasi di area pelabuhan nelayan, Selasa (28/7/2026) malam, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 14 lainnya.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan seluruh korban segera dievakuasi ke fasilitas medis terdekat guna mendapatkan penanganan darurat. Di antara deretan korban luka berat tersebut, tim paramedis mengidentifikasi satu korban yang masih berstatus anak-anak.
Tuduhan Pelanggaran Hak Sipil
Serangan yang menyasar fasilitas rekreasi masyarakat ini memicu gelombang kecaman. Gerakan Mujahidin Palestina mengklasifikasikan gempuran tersebut sebagai kejahatan perang yang sistematis terhadap warga sipil.
"Penargetan terus-menerus terhadap warga sipil dan tempat-tempat umum merupakan kelanjutan dari perang genosida terhadap rakyat kami," tegasnya.
Mereka memandang eskalasi militer ini dirancang untuk menyabotase negosiasi diplomatik. Senada dengan pernyataan tersebut, Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) melabeli insiden pengeboman ini sebagai pembantaian pelabuhan.
PFLP berpendapat Israel berusaha memaksakan realitas politik baru di wilayah konflik, memanfaatkan kelemahan regulasi internasional. Kelompok tersebut juga meminta negara-negara penjamin untuk melakukan intervensi secepatnya guna menghentikan penembakan.
"Washington harus ikut dimintai pertanggungjawaban karena memberikan perlindungan politik bagi Israel dan menutupi pelanggaran yang dilakukannya," tuntutnya.
Bertolak Belakang dengan Opsi AS
Gempuran terbaru di area pelabuhan terjadi di tengah negosiasi yang difasilitasi Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump menginstruksikan Israel untuk meredakan tensi serangan melalui saluran televisi nasional sehari sebelum kejadian.
Trump mengklaim ada kesepakatan prinsipil di mana kelompok sayap bersenjata di Gaza bersedia menyerahkan alat tempur secara bertahap. Hal ini diutarakan saat utusan AS, Jared Kushner sedang merundingkan kerangka kerja krisis tersebut langsung dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"Pada akhirnya, mereka menyerahkan senjata mereka," papar Trump dalam kutipan wawancaranya.
Kondisi di lapangan menunjukkan arah yang berbeda. Benjamin Netanyahu pekan lalu menolak proposal AS tersebut dan kembali merutinkan patroli udara bersenjata di langit Gaza.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Kuliner |







