Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
9 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kampus

Konflik dan Konspirasi Paling Digemari, Algoritma Media Sosial Dorong Laju Hoaks

Konflik dan Konspirasi Paling Digemari, Algoritma Media Sosial Dorong Laju Hoaks
Fenomena media sosial. (ilustrasi: hermanto ansam/gosumbar.com/gemini ai)
Senin, 10 Agustus 2026 11:32 WIB
JAKARTA - Publik kerap kali terjebak dalam pusaran informasi menyesatkan akibat cara kerja mesin platform digital yang mengutamakan interaksi. Fenomena ini mengemuka setelah terungkapnya puluhan akun penyebar narasi provokatif di Jakarta selama rentang waktu Juni sampai Agustus 2026.

Pakar komunikasi digital, Firman Kurniawan membedah alasan mengapa kabar bohong sangat mudah tersebar luas. Menurutnya, unggahan bernuansa pertikaian, konspirasi, dan kasus kriminal memiliki daya tarik alami yang kuat bagi warganet.

"Formula konten yang menarik perhatian biasanya yang jarang terjadi dan mengundang rasa ingin tahu," jelas Firman, Senin (10/8/2026).

Karena sifatnya yang langka, isu tersebut langsung menyita pandangan publik. Mesin algoritma kemudian merespons ketertarikan ini berdasarkan durasi tontonan, jumlah komentar, dan angka pembagian ulang. Semakin tinggi interaksi, semakin agresif platform merekomendasikan unggahan itu.

Pertarungan Merebut Atensi

Sistem ini berjalan di atas prinsip yang disebut ruang ekonomi perhatian. Dalam ekosistem daring, perhatian pengguna dianggap sebagai komoditas utama yang mendatangkan keuntungan finansial bagi penyedia platform. Algoritma sama sekali tidak bertugas memfilter fakta, melainkan hanya mendorong materi yang paling disukai.

"Algoritma memperkuat tampilan konten yang digemari khalayak. Dalam konsep economy of attention, perhatian itu langka dan diperebutkan," tambahnya.

Antisipasi Penegak Hukum

Dampak nyata dari algoritma ini terlihat dari temuan Polda Metro Jaya yang membongkar 37 akun bermasalah. Polisi telah meminta keterangan dari 28 orang terkait produksi konten destruktif yang melibatkan pihak ketiga berbayar serta manipulasi dokumen.

Dari jumlah tersebut, 10 individu resmi menyandang status tersangka, sedangkan 18 warga lainnya diberikan edukasi dan pembinaan. Meskipun persebaran narasi negatif cukup tinggi, pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa aktivitas harian masyarakat tetap normal dan tidak ada gangguan keamanan.

Sebagai bentuk antisipasi lanjutan, aparat akan lebih mengedepankan pendekatan preventif guna mensterilkan ruang digital dari informasi palsu. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Kampus
wwwwww