Minyak Mentah WTI Merosot, Harga BBM Justru Diprediksi Tetap Ketat
![]() |
| Ilustrasi exxonmobil. (foto: dok. exxonmobil) |
JAKARTA - Harapan masyarakat akan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah tampaknya belum akan terealisasi dalam waktu dekat. Kendala operasional pada rantai pasok penyulingan memutus korelasi alami antara harga bahan baku dan produk jadi di pasaran.
Berdasarkan data terkini, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) telah anjlok hingga 26 persen dari titik tertingginya pada tahun 2026. Namun, harga BBM tingkat konsumen seperti bensin di Amerika Serikat (AS) masih bertahan di angka USD 4 per galon, atau sekadar terkoreksi sekitar 10 persen dari harga puncaknya di bulan Mei 2026.
Rantai Pasok Terhambat
Chief Financial Officer ExxonMobil, Neil Hansen mengungkapkan bahwa sumbatan utama industri energi global saat ini beralih dari masalah sumur minyak ke fasilitas penyulingannya.
"Titik kendala dalam sistem energi saat ini adalah pengolahan minyak," sebutnya, Minggu (2/8/2026).
Sektor pengolahan dipaksa bekerja ekstrem karena hilangnya hampir 10 persen kapasitas global, mengacu pada data Melius Research. Gangguan geopolitik di Timur Tengah dan daratan Eropa timur mengakibatkan pabrik-pabrik yang masih beroperasi kehilangan ruang gerak untuk menambah kuota produksi.
Menanggapi minimnya fleksibilitas operasi tersebut, CEO ExxonMobil, Darren Woods mengakui bahwa skala defisit saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi tersebut diperkuat dengan laporan utilisasi kilang di mana fasilitas milik Shell tercatat beroperasi di atas kapasitas normal hingga 102 persen pada kuartal kedua 2026.
"Saya belum pernah melihat kapasitas yang tersedia dibandingkan dengan permintaan berada pada tingkat serendah sekarang," ujarnya.
Tren Harga Jelang Musim Dingin
CEO Chevron, Mike Wirth memproyeksikan situasi pasar akan semakin kompetitif dan ketat tatkala negara-negara di belahan bumi utara mulai membangun persediaan cadangan minyak pemanas untuk mengantisipasi datangnya musim dingin.
"Saya kira kita akan melihat tekanan kenaikan pada harga produk memasuki kuartal III dan mungkin berlanjut setelahnya," paparnya.
Keandalan Pasokan Diuji
Di tengah ketatnya operasional kilang, Senior Portfolio Manager Tortoise Capital Advisors, Rob Thummel mengingatkan bahwa pergerakan harga BBM ke depannya akan sepenuhnya dikendalikan oleh volume cadangan yang tersisa.
"Persediaan produk olahan mendekati level terendah dalam sejarah," imbuhnya.
CFO Chevron, Eimear Bonner turut memberikan peringatan terkait menipisnya ruang cadangan operasional yang dimiliki oleh produsen energi dunia. Ketidakmampuan pasar menambah pasokan saat terjadi eskalasi geopolitik menjadi risiko nyata ke depannya.
"Peredam guncangan yang sampai sekarang mampu mengurangi volatilitas terus terkikis," pungkasnya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kumparan.com |
| Kategori | : | Kuliner |











