Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
9 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
6 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
6 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Kampus

Cegah Penyebaran Virus Nipah, Peneliti BRIN: Pemerintah Perlu Segera Siapkan Program Antisipasi

Cegah Penyebaran Virus Nipah, Peneliti BRIN: Pemerintah Perlu Segera Siapkan Program Antisipasi
Gambar ilustrasi. (Image Source: vietnam.vn/id)
Jum'at, 06 Februari 2026 21:42 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pujiatmoko sarankan, pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif terhadap potensi penyebaran wabah virus Nipah (NiV), yang kembali terjadi di India pada awal 2026.

Dengan tingkat kematian pada manusia yang sangat tinggi (40–75 persen), ketiadaan vaksin dan pengobatan spesifik, serta karakter penularan yang melibatkan interaksi manusia–hewan–lingkungan, virus Nipah berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi yang signifikan apabila tidak diantisipasi secara sistematis.

Pudjiatmoko menyebut bahwa Pemerintah, DPR, dan otoritas veteriner perlu memosisikan isu virus Nipah sebagai ancaman strategis kesehatan nasional berbasis zoonosis. Meskipun penularan antarmanusia relatif terbatas dan tidak seefisien COVID-19, risiko terjadinya wabah sporadis lintas wilayah tetap nyata, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, aktivitas peternakan yang intensif, serta kedekatan dengan habitat satwa liar.

“Wabah terbaru di India kembali menegaskan bahwa Asia merupakan wilayah berisiko tinggi akibat keberadaan reservoir alami virus, praktik konsumsi pangan tradisional tertentu, serta tingginya kepadatan penduduk. Meskipun tidak berpotensi menjadi pandemi global seperti COVID-19, dampaknya dapat sangat fatal dan menimbulkan kerugian besar apabila tidak ditangani secara serius. Oleh karena itu, kebijakan yang proaktif, terkoordinasi, dan berbasis sains menjadi kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat serta menjaga ketahanan kesehatan regional,” kata Pudjiatmoko.

Pudjiatmoko menegaskan bahwa pendekatan reaktif dalam menghadapi ancaman penyebaran virus Nipah tidaklah cukup. Pemerintah perlu melakukan investasi berkelanjutan dalam pencegahan zoonosis, penguatan kesiapsiagaan wabah, serta penerapan pendekatan One Health yang akan memberikan manfaat jangka panjang dalam mencegah krisis kesehatan di masa depan. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyusun program terintegrasi untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

Pemerintah perlu melakukan setidaknya tiga langkah strategis untuk mengantisipasi penyebaran virus Nipah. Pertama, pengendalian risiko lingkungan dan pangan melalui edukasi konsumsi pangan yang aman, pengamanan pangan tradisional, serta pengelolaan habitat satwa liar. Upaya ini bertujuan untuk menurunkan risiko paparan awal dari sumber zoonotik.

Kedua, membangun jalur komunikasi dan edukasi risiko bagi masyarakat dengan menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan berbasis sains mengenai wabah ini, serta melibatkan tokoh masyarakat dan media. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kepanikan sekaligus meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap upaya pengendalian

Ketiga, lakukan riset serta kerja sama internasional untuk mengendalikan penyebaran virus Nipah. Upaya ini penting guna memperoleh dukungan dalam pengembangan terapi dan vaksin. Selain itu, kerja sama internasional juga bermanfaat untuk berbagi data dan praktik terbaik di tingkat regional, kata mantan Atase Pertanian KBRI Tokyo untuk Jepang ini. ***

wwwwww