Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
8 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Cendekia

OTT "Satu Bulan Sekali" Dianggap Minim, KPK Minta Modal Alat Canggih demi Target Fantastis

OTT Satu Bulan Sekali Dianggap Minim, KPK Minta Modal Alat Canggih demi Target Fantastis
Gedung KPK
Senin, 02 Februari 2026 06:19 WIB

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini tengah mengincar lompatan performa besar dalam aksi penindakan. Dalam rapat terbaru di Senayan, lembaga antirasuah ini secara jujur mengakui bahwa intensitas Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang rendah saat ini disebabkan oleh persenjataan teknologi yang sudah "usang" dan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Eks penyidik KPK, Praswad Nugraha, menilai langkah pimpinan KPK meminta anggaran alat canggih adalah kebutuhan mendesak. Ia memprediksi bahwa jika modal teknologi ini dipenuhi, produktivitas KPK dalam menjaring koruptor bisa melonjak hingga tiga kali lipat dari biasanya.

"Jika KPK diberikan dukungan alat yang lebih canggih, kami optimistis mereka dapat melaksanakan OTT setidaknya 30 kali per tahun," kata Praswad, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, para koruptor saat ini sangat sadar teknologi. Mereka menggunakan perangkat komunikasi yang sulit ditembus oleh sistem lama yang dimiliki KPK. Tanpa adanya pembaruan, pelaksanaan OTT akan terus menemui jalan buntu karena penyidik kehilangan jejak digital para pelaku.

Senada dengan itu, Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto menegaskan di hadapan Komisi III DPR bahwa keterbatasan SDM bukanlah satu-satunya kendala. Masalah utama terletak pada instrumen yang digunakan di lapangan.

"Kurang canggih, Pak. Ini sudah tidak up to date. Berikanlah kami alat yang canggih supaya OTT tidak hanya satu sebulan. Kalau dikasih anggaran besar, OTT bisa lebih masif," ujar Fitroh secara blak-blakan.

Pesan yang ingin disampaikan KPK cukup jelas: pemberantasan korupsi butuh modal yang sebanding dengan kecerdikan para pelakunya. Kini keputusan berada di tangan DPR untuk menentukan apakah pengadaan alat canggih ini akan dianggap sebagai biaya mahal atau justru investasi berharga untuk menyelamatkan uang negara di masa depan.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inews.id
Kategori:Cendekia, Balai Kota, Parlemen
wwwwww