Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pendiri Pekanbaru Marhum Pekan Resmi Terima Gelar Pahlawan Nasional
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Pendiri Pekanbaru Marhum Pekan Resmi Terima Gelar Pahlawan Nasional
2
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
3
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Eks Kepala BMKG Beberkan Peringatan untuk Bobby Nasution soal Potensi Banjir Bandang

Eks Kepala BMKG Beberkan Peringatan untuk Bobby Nasution soal Potensi Banjir Bandang
Banjir di Tapanuli Selatan. (foto: antara/yudi manar)
Sabtu, 06 Desember 2025 16:02 WIB

JAKARTA – Gelombang banjir bandang yang meluluhlantakkan berbagai wilayah di Sumatera Utara rupanya bukan tanpa tanda. Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkap bahwa potensi bencana besar telah ia sampaikan langsung kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, jauh sebelum kejadian. Ia bahkan meninjau lapangan bersama Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, pada Oktober 2025 untuk menekankan risiko tersebut.

Menurut Dwikorita, koordinasi dengan pemerintah daerah sudah dilakukan, namun skala bencana melampaui prediksi ilmiah.

"Kita belum membayangkan siklonnya itu akan segitu bandelnya… tapi fenomena banjir bandang sering terjadi dan koordinasi dengan pemerintah daerah itu sudah ada," tuturnya dalam diskusi di UGM, Sleman, Kamis (4/12/2025).

Ia menegaskan bahwa peringatan dini tersebut sempat ditindaklanjuti dalam pertemuan daring dengan Bobby Nasution. Pemprov Sumut dinilai cukup siaga, namun dampak bencana kali ini lebih dahsyat karena menerjang banyak daerah aliran sungai sekaligus. Kondisi itu, menurutnya, melampaui siklus 50 tahunan yang pernah ia teliti di kawasan Bahorok.

Dwikorita menyebut adanya faktor non-alamiah yang ikut memperparah bencana, yakni perubahan ekosistem akibat aktivitas manusia.

"Faktor antropogenik mengacaukan semua kesiapan. Sesungguhnya yang tidak boleh dilanggar adalah ekologi. Kalau ekologinya tidak benar, kesiapan kita selalu dilampaui oleh kejadian yang ada," tegas Guru Besar Geologi Lingkungan itu.

Ia memperingatkan bahwa ancaman serupa dapat terjadi di wilayah lain yang memiliki kontur mirip Pegunungan Bukit Barisan, termasuk Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Terlebih lagi, Desember 2025 sampai April 2026 merupakan periode tumbuhnya siklon di selatan ekuator—kondisi yang meningkatkan potensi hujan ekstrem.

"Guyuran hujan dari bibit siklon saja sudah cukup memicu tanah longsor dan banjir bandang di wilayah geologi rentan," ujarnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Warga Bertuah, Balai Kota, Binawidya
wwwwww