Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
2
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
3
Pendiri Pekanbaru Marhum Pekan Resmi Terima Gelar Pahlawan Nasional
Kabar Bertuah
2 jam yang lalu
Pendiri Pekanbaru Marhum Pekan Resmi Terima Gelar Pahlawan Nasional
Home  /  Berita  /  Parlemen

Polemik PBNU Mengemuka, Rocky Gerung Sebut NU Tak Pernah Sepenuhnya Lepas dari Konflik

Polemik PBNU Mengemuka, Rocky Gerung Sebut NU Tak Pernah Sepenuhnya Lepas dari Konflik
Kolase logo PBNU dan Rocky Gerung.
Selasa, 25 November 2025 06:20 WIB

JAKARTA – Polemik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memanas setelah Ketua Umum, Yahya Cholil Staquf, dinilai mengabaikan risalah Syuriyah yang memintanya mundur dari jabatan. Gejolak yang terjadi memicu diskusi luas mengenai arah organisasi serta tarik-menarik kepentingan di dalamnya.

Pengamat politik Rocky Gerung menilai kondisi tersebut bukan sekadar perselisihan struktural, melainkan bagian dari pergulatan panjang NU dalam menjaga nilai keagamaan di tengah tekanan politik dan kepentingan praktis. “Organisasi yang dirancang sebetulnya untuk memelihara ethics value itu tapi kemudian terlihat dalam soal-soal yang politik pragmatis. Kesimpulan dari analisis kita bahwa NU memang akan selalu ada di dalam kondisi prahara,” ujar Rocky melalui kanal YouTube pribadinya, Senin malam (24/11/2025).

Menurut Rocky, NU sejak awal membawa misi moral dan tradisi keagamaan yang kuat. Namun dinamika sejarah dan keterlibatan dalam ruang publik membuat organisasi ini tak sepenuhnya dapat menghindari arus pragmatis. “Organisasi yang didirikan dengan basis nilai yang kuat itu akhirnya terseret, harus terlibat karena panggilan suasana atau panggilan situasi yang bersejarah itu dalam politik dan terakhir soal-soal bisnis,” jelasnya.

Rocky menilai, situasi yang terjadi saat ini mencerminkan adanya dua arus pemikiran yang sedang berhadapan: pendekatan akomodatif yang ingin menjaga NU tetap menjadi penuntun moral, dan arus pragmatis yang menilai keterlibatan dalam politik sebagai keharusan untuk mempertahankan pengaruh.

Perdebatan internal PBNU, menurutnya, menjadi ruang bagi publik untuk melihat bagaimana organisasi sebesar NU merespons perubahan zaman dan tekanan kekuasaan. “Jadi oke kita tunggu bagaimana evolusi dalam NU antara pikiran-pikiran akomodasionistik dan pikiran-pikiran pragmatik,” ujarnya.

Polemik yang bergulir diperkirakan masih panjang, seiring perbedaan pandangan antara struktur Syuriyah dan tanfidziyah. Arah sikap PBNU dalam beberapa waktu ke depan kini menjadi perhatian luas, terutama di tengah sorotan terhadap kepemimpinan dan masa depan organisasi. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Parlemen
wwwwww