Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
2
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
3
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
4
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
4 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
5
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
6
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Pertamina Kian Tegak, BBM Swasta Terancam Kosong di Tengah Perang Kepentingan Energi

Pertamina Kian Tegak, BBM Swasta Terancam Kosong di Tengah Perang Kepentingan Energi
SPBU swasta mulai kehabisan stok BBM sejak Agustus 2025 lalu, di antaranya Shell, Vivo, hingga BP-AKR. (liputan6.com/angga yuniar)
Senin, 06 Oktober 2025 10:03 WIB
JAKARTA – Kebuntuan negosiasi antara Pertamina dan dua perusahaan migas raksasa dunia, Shell serta Exxon, terkait pembelian bahan bakar minyak (BBM) menunjukkan arah baru politik energi Indonesia. Di tengah upaya pemerintah memperkuat kendali atas pasokan energi nasional, dua pemain global itu masih menunda keputusan untuk membeli bahan dasar (base fuel) dari Pertamina.

Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth Domatubun, mengatakan pembahasan masih berlangsung dan belum mencapai titik final. “Exxon dan Shell belum dapat memberikan keputusan lanjutan,” ujarnya, Senin (6/10/2025).

Shell dikabarkan masih menunggu instruksi dari kantor pusat terkait kepatuhan vendor, sedangkan Exxon masih memiliki stok hingga November dan belum memutuskan langkah berikutnya. Akibatnya, potensi kekosongan BBM di SPBU swasta semakin besar menjelang akhir tahun.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa opsi tetap terbuka: bekerja sama dengan Pertamina atau menghadapi risiko kehabisan stok. “Ya ini pilihan, mau kosong sampai akhir tahun atau mau ada yang disepakati,” katanya, Jumat (3/10/2025).

Sejak Agustus 2025, SPBU non-Pertamina seperti Shell, Vivo, dan BP-AKR mengalami penurunan pasokan akibat terbatasnya impor bahan dasar. Pemerintah kemudian mendorong mereka untuk memanfaatkan bahan dasar impor milik Pertamina agar pasokan tetap stabil.

Analis energi menilai kondisi ini sebagai bagian dari konsolidasi kedaulatan energi nasional. “Pemerintah tampak ingin memastikan seluruh rantai pasokan energi strategis tetap dalam kendali nasional. Pertamina menjadi instrumen utama dalam kebijakan ini,” kata seorang pengamat kebijakan energi.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga memunculkan dilema. Ketergantungan penuh pada Pertamina berisiko mengurangi peran swasta dan kompetisi yang sehat di pasar energi. Indonesia kini berada di persimpangan: antara memperkuat kontrol negara atas energi, atau tetap membuka ruang bagi pasar bebas.

Satu hal yang pasti, keputusan Shell dan Exxon bukan sekadar urusan dagang. Di baliknya, tersimpan tarik-menarik antara kepentingan bisnis global dan arah baru kedaulatan energi Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Kabar Bertuah, Kampus
wwwwww