Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
16 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
19 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
16 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Solar Langka di Bandar Lampung, Antrean Kendaraan Capai Empat Kilometer

Solar Langka di Bandar Lampung, Antrean Kendaraan Capai Empat Kilometer
Empat jalur khusus pengisian solar di SPBU Soekarno Hatta. (Foto: Taufik H/Lampung Geh)
Minggu, 05 Oktober 2025 11:40 WIB

BANDAR LAMPUNG – Kelangkaan bahan bakar solar kembali menghantui aktivitas masyarakat di Bandar Lampung. Sejak Sabtu (4/10/2025) sore, antrean kendaraan tampak mengular panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), bahkan mencapai hingga empat kilometer di beberapa titik.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean panjang terjadi di empat lokasi utama: SPBU Soekarno Hatta, SPBU Codo Pertamina, SPBU Rajabasa, dan SPBU Labuhan Ratu. Mayoritas kendaraan yang mengantre adalah truk pengangkut barang dan kendaraan besar yang bergantung pada solar subsidi untuk beroperasi.

Di SPBU Soekarno Hatta, antrean kendaraan sudah mencapai dua kilometer. Pihak SPBU terpaksa membuka empat jalur pengisian khusus solar demi mempercepat pelayanan. Sementara di SPBU Codo Pertamina, antrean bahkan lebih panjang, mencapai 3–4 kilometer dengan dominasi bus penumpang dan truk logistik. 

Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Rajabasa dan Labuhan Ratu. SPBU Rajabasa yang baru buka pukul 18.00 WIB langsung dipadati kendaraan, sementara di Labuhan Ratu antrean sepanjang satu kilometer membuat lalu lintas di sekitarnya macet parah.

Usman (53), sopir truk angkutan pasir, mengaku sudah dua jam lebih mengantre di SPBU Codo Pertamina. Menurutnya, antrean panjang semacam ini sudah menjadi hal lumrah di Lampung. “Udah dua jam lebih nunggu. Tapi tiap hari begini, bukan cuma sekarang,” katanya. 

Ia menyebut antrean panjang juga terjadi di beberapa wilayah lain seperti Pesawaran dan Geneng. “Di sana malah lebih parah, bisa sampai ratusan mobil yang antre. Ada juga SPBU yang ngecor pakai jeriken buat dijual lagi,” ujarnya.

Usman menilai kelangkaan solar bukan semata karena stok menipis, tetapi karena ada penyalahgunaan dalam distribusi BBM bersubsidi. Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Gubernur Lampung, segera turun tangan untuk menindak tegas SPBU yang bermain curang.

“Gubernur harus tegas. Banyak SPBU yang main belakang, masyarakat kecil yang benar-benar butuh malah susah,” tegasnya.

Kelangkaan solar ini tidak hanya menghambat aktivitas pengangkutan logistik, tetapi juga berimbas pada sektor ekonomi lokal. Harga sewa angkutan meningkat, distribusi barang tersendat, dan sebagian pelaku usaha kecil terpaksa menghentikan operasional sementara karena kekurangan bahan bakar.

Masyarakat berharap pemerintah pusat dan daerah segera memperbaiki sistem distribusi BBM agar lebih transparan dan tepat sasaran. Jika dibiarkan berlarut-larut, krisis solar di Lampung dikhawatirkan akan berdampak luas pada stabilitas ekonomi dan rantai pasok di wilayah Sumatera bagian selatan. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Balai Kota
wwwwww