Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
2
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
3
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
5 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
2 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
6
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Luka Mendalam di Sidoarjo, Santri dan Keluarga Dihadapkan pada Trauma Panjang

Luka Mendalam di Sidoarjo, Santri dan Keluarga Dihadapkan pada Trauma Panjang
Sejumlah petugas Tim SAR gabungan berjaga di sekitar bangunan musala Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025). (foto: antara/naufal ammar imaduddin)
Sabtu, 04 Oktober 2025 10:18 WIB
JAKARTA – Musibah runtuhnya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny tak hanya merenggut nyawa 13 orang, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi para santri dan keluarga. Tragedi yang menimpa rumah kedua mereka kini berubah menjadi pengalaman traumatis yang akan dikenang sepanjang hidup.

Proses evakuasi masih berlangsung intensif. Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menyebut total korban yang berhasil dievakuasi telah mencapai 116 orang. “Hari ini ditemukan delapan korban lagi, sehingga total korban meninggal dunia 13 orang. Semua langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).

Bagi para santri yang selamat, detik-detik bangunan ambruk menjadi memori mencekam. Runtuhan tembok, teriakan teman, hingga kepanikan saat berusaha menyelamatkan diri meninggalkan trauma psikologis yang tidak kalah berat dari luka fisik.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, menekankan tragedi ini seharusnya menjadi titik balik dalam melihat pesantren. “Pondok bukan sekadar tempat menuntut ilmu, ia adalah rumah kedua para santri. Kita tidak boleh lagi mengabaikan aspek keselamatan,” tegasnya.

Lebih dari sekadar bangunan yang roboh, tragedi Sidoarjo adalah kisah kehilangan. Keluarga berduka, santri mengalami trauma, dan masyarakat pesantren di seluruh Indonesia merasa terancam jika keselamatan mereka tidak segera dijamin.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa setiap nyawa santri harus dipandang sebagai prioritas utama. Tragedi Sidoarjo bukan hanya soal angka korban, melainkan tentang kehidupan yang berubah selamanya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:Inilah.com
Kategori:Kabar Bertuah, Kampus, Warga Bertuah
wwwwww